Menikmati Proses

Puasa nggak ngomongin soal wedding dulu yah.. hehehee.. 
Kali ini gue ingin berbagi cerita soal pengalaman gue beberapa hari belakangan ini, gue sibuk.. ya sibuk.. dimana pun gue berada, di rumah... dikantor.. dikampus.. hoallaaahhh... dan gue tetap bersemangat, karena inilah jalan yang udah gue pilih jadi gimana pun rasanya, susahnya, senengnya, gue tetap harus bersemangat!

Beberapa hari ini, gue sampe geleng-geleng kepala dan ngelus-ngelus dada sambil sesekali usap-usap jidat gue (ngukur suhu badan gue maksudnya) ketikas bos gue abis kasih tugas tambahan. Jujur dalam lubuk hati gue yang terdalam gue pengen bilang bahwa "gue overload..." dan sebenernya bos gue juga tau, belom lama memang gue dapet orang buat bantuin, tapi baru 3 bln gabung dia resign dg cara yg gak profesional. Dan rekan gue ini (sorry to say) dari awal memang sudah menunjukan rasa "tidak semangat" dan rasa "tidak mau belajar", dan sering kali gue lihat dia asik quick apply di Jobdb sama Jobstreet - itu urusan dia dan gue gak mau jadi rekan kerja yg sok ngatur-ngatur gimana gitu, tau sama tau ajalah.

Bos gue kasih tugas yg gak biasa, dimana gue harus memeras otak gue untuk buat suatu konsep, bikin pemetaan, dan itu butuh pemikiran dan sumpah pake logika banget. Semua sisdur harus gue pelajari dan mengerti, semua - ya semua! (tau gak berapa banyak kebijakan dan sisdur yg harus gue pelanjari dan pahami?) bahkan sampe disuruh terjun ke lapangan langsung untuk pelajarin operasional. Disini keahlian gue diuji, ketepatan, kecepatan, kematangan berpikir, dan keberanian gue. Awalnya down.. udah kayak single fighter gini gue sekarang, gue rasanya butuh minum tolak angin segalon (lebay!), tapi gue gak nolak, gak bantah, gak adu argumen. Gue tetap terima dan berharap bisa kerjain secepat mungkin karena gue melihat tatapan penuh syarat bos gue, bagaimanapun ini demi perusahaan bukan? that's right.

Satu hal, disetiap gue dapat suatu kesempatan yang didalamnya ada tantangan, gue selalu berpikir bahwa gue sedang dilatih, diajarin, dari sesuatu yg gue gak tau sekarang jadi tau, dari sesuatu yg gue gak bisa jadi bisa, dan yang terpenting adalah dari sesuatu yang gue takutin dan sekarang jadi gue senangi. Gue yakin pasti ada pelajaran yang gue petik dari cerita gue ini. Mungkin Tuhan lihat otak gue udah lama "pingsan" jadi dia ngegerakin bos gue agar otak gue ini disadarkan kembali ya.. hahaha

Dan, ketika malam ini gue cerita hal ini sama leo, dia pun menanggapi dengan cerita yang intinya kurang lebih mirip. Jadi disaat dia sedang berjuang untuk nge-dealin customer dia, temen-temen dia termasuk atasan dia mendadak jadi orang skeptis gitu, meragukan tapi gak kasih solusi. Tapi satu hal yang gue kagumi dari leo, walaupun disekitar dia bersikap demikian, dia tetap pada pendirian dia, "insting gak pernah bohong, dan insting itu terbentuk karena pengalaman" dan begitulah dia, selalu menjadi orang yang selalu mengikuti kata hatinya. Dia merasa jika sedang dihadapi pada persoalan inter personal seperti itu, dia menganggap dirinya tengah belajar, emosionalnya sedang dilatih dan dengan cara demikian makanya dia tidak pernah merasa terbebani karena semua proses yang dilalui adalah proses belajar.

Kita berdua sama-sama tahu bahwa cita-cita terbesar kita adalah menjadi orang dagang, ya.. bahasa kerennya pengusaha, menjadi direktur di perusahaan sendiri yang walaupun kecil tetapi kita bisa menyalurkan semua bakat dan kemampuan kita, kita seperti menjadi kusir bagi kereta kuda kita. Dan untuk mencapai semua itu saat ini kita berdua lagi diajarin untuk menjadi pemimpin yang baik, berpikir strategic, memanage orang, mengatur keuangan perusahaan, memimalisasi resiko bisnis, strategic marketing, dsb...

Walaupun saat ini terasa berat, kita coba untuk menikmati proses ini karena jika kita menjalaninya dengan suka cita, akan banyak kebahagiaan untuk kita. Salam sukses untuk kalian! ^^


Comments