Thursday, 21 July 2016

[Edisi Honeymoon] : Ubud - Bali - Bag.2

Masih edisi honeymoon di Ubud - Bali, yang belum baca bagian pertama silahkan mampir kesini dulu ya ^^ mariii lanjut ceritanya...

Hari kedua di Ubud, kami pergunakan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata. Rencananya kalau gue bisa bangun pagian dikit, kita mau jogging ke Campuhan Ridge Walk, keren ya namanya!!! tapi donk gue bangunnya kesiangan hihihi padahal udah niat banget loh bawa sepatu lari segala trus pelajari rute menuju kesana. Dan kalau jadi jogging, pulangnya sekalian mampir ke Pasar Seni Ubud, ya tapi kan gak jadi jogging yaudah ke Pasar Seni Ubudnya juga lain kali aja :p

Pagi itu diisi dengan kegiatan berenang lalu lanjut sarapan ringan dan siap-siap berangkat ke salah satu obyek wisata agrotourism yang cukup terkenal belakangan ini, apa itu??? simak dibawah ini ya *sok misterius*


Bali Pulina

Berhubung selama honeymoon ini, kami tinggalnya di Ubud jadi sebisa mungkin jalan-jalannya juga dekat-dekat sini. Setelah browsing akhirnya gue menemukan Bali Pulina ini, perjalanan dari hotel kami kira-kira memakan waktu 40 menit, kita akan melewati Ceking Terrace yang terkenal itu dulu, baru nanti di sebelah kiri gak jauh sampe deh ke Bali Pulina. 

Harga tiket masuk yang dibandrol adalah Rp 100.000,- per orang, tapi jangan protes mahal dulu ya karena begitu sampai di pintu masuk Bali Pulina kita akan ditemani seorang pemandu yang akan memberikan penjelasan mengenai berbagai tanaman, khususnya kopi, lalu kita akan dibawa juga untuk melihat langsung binatang luwak dan memberi makan juga, melihat proses pengolahan kopi yang masih pakai tungku (yep, tradisional banget!!!) dan terakhir bagian yang paling gue dan L suka hihihi... coffee and tea testing hehehee... free loh karena sudah termasuk harga tiket yang kita bayarkan tadi.


Sudah sampai di Bali Pulina :)

Yang punya blog numpang foto dulu ya hehehehe

Ini yang namanya binatang luwak, luwak ini termasuk hewan yang agresif loh jadi jangan coba-coba iseng masukin tangan
ke dalam kandang ya bisa digigit

Gue coba kasih makan si luwak. Sebelum makan buah kopi ini biasanya dia akan cium-cium dulu. Ternyata oh ternyata...
kata Bli yang memandu kita, si luwak ini hanya akan makan biji kopi yang sudah matang dan bagus. 

Tumpukan biji kopi putih itu adalah hasil kotoran si luwak, etsss jangan jijik yaa...
karena sebelum dijadikan kopi luwak, kotoran tadi harus melewati serangkaian proses pengolahan yang panjang banget

Kita sampai di area cafenya Bali Pulina, disini kita bisa tukarkan potongan tiket kita untuk coffee and tea testing,
kalau mau cemil-cemil cantik juga bisa kok ^^

Kukis homemade yang dijual perkeping seharga Rp 5.000,- ada yang mau coba?

Sambil menunggu kopi & teh kita disiapkan, kita foto-foto dulu di Kembang Kopi Stage, pemandangannya bagusss...

Stagenya berbentuk daun kopi, kreatif ya

Percayalah kalau lihat langsung, jauh berkali-kali lipat lebih cantik viewnya
*jangan bilang karena ada guenya jadi jelek ya, tujes nih hihihi*

Gak lama kopi dan tehnya datang, plus kripik singkong... Total dikasih 8 cangkir teh dan kopi, kira-kira mana yang jadi favorit kami ya?

Eh gak lama setelahnya pisang goreng madunya datang, lihat deh muka si L mupeng banget hahaha

Penampakan jelas si pisang goreng madu, ini beneran enak loh!

Sambil dinikmati gitu minum tehnya hahaha...

Kita juga bisa pesan kopi/teh lagi loh tapi dibatasi hanya satu gelas per orang ya. Rasanya bisa pilih sesuai favorite kita,
gue akhirnya pilih ginger tea dan L pilih chocolate coffee... Terbukti kan kalau kami berdua memang bukan coffee lovers!!!

Setelah selesai ngopi, sebelum pulang kita mampir ke gift shop Bali Pulina dulu.
Di dalamnya dijual produk kopi dan teh yang tadi disediakan ke kita. Harganya lumayan pricey kalau kata gue hihi

Contoh produknya yang lain... Akhirnya gue beli satu ginger tea dan satu lemon tea, harganya masing-masing 110k

Bali Pulina
Banjar Pujung Kelod, Tegallalang, Kec. Gianyar, Bali
HTM Rp 100.000,- per orang (ditukar dengan coffee & tea testing dan snack)



Makan Siang di Bebek Bengil - Ubud

Dari Bali Pulina, tadinya kami mau mampir Ceking Terrace yang terkenal itu. Banyak para turis bule yang mampir juga kesana, tapi berhubung perut kami keroncongan, kami putuskan untuk pulang dan cari makan dekat hotel. Sampai di hotel, kami cuma numpang parkir mobil aja sih hihihi karena cari parkir di Bebek Bengil itu susah banget. Nah dari hotel kita tinggal jalan kaki gak sampe 5 menit udah sampe deh.


Bebek Bengil - Ubud Bali, yang terkenal dengan original crispy duck-nya sejak tahun 1990

Sesampainya di resto, kami langsung request mau duduk yang viewnya hadap sawah, sempat putar-putaran dulu sih nyari tempat duduk yang oke sampai akhirnya dapat yang lesehan. Gak lama setelah buka buku menunya, kita langsung order, yang pasti gue gak order menu bebek karena gak doyan.

Ini dia menu yang kita pilih untuk makan siang:


The original crispy duck (pesanan L) disajikan dengan sayur bali, tiga aneka sambal, dan sepotong semangka.
Harganya 125k

Nasi campur bali, pesanan gue. Harganya 75k

Seingat gue, Nasi Campur Bali yang gue pesan rasanya biasa aja. Porsinya jumbo, gue gak bisa habisin semuanya. Sedangkan kalau menurut L, bebek goreng pesanan dia enak banget. Sebelum pulang, kita sempatin foto-foto suasana outdoor di restonya, lumayan dapat foto sawah yang hijau :p


Bebek Bengil banyak juga cabangnya, selain di Ubud, ada juga di Nusa Dua dan Uluwatu.
Diluar Bali, cabangnya ada di Menteng - Jakarta dan di The Breeze - BSD City.


Salah satu tempat yang enak untuk bersantap, lesehan! viewnya sawah, ademmmm....


Sawah hijau di dalam resto

Bebek Bengil - Dirty Duck Diner
Jl. Hanoman, Padang tegal, Ubud - Bali 80571
Tlp. 0361-975489/ 977675



Monkey Forest - Ubud

Sehabis makan siang, kita lanjut bakar kalori hihi alias jalan kaki menuju Monkey Forest. Jaraknya dekat banget, gak pake cape deh, udah gitu pedestrian di Ubud ini emang asik banget, teratur dan rapih semua. Ini kali pertama gue dan L ke Monkey Forest, tapi sebelumnya kita berdua pernah ke tempat wisata banyak monyetnya juga di Uluwatu. Jadi lumayan kita udah persiapan untuk gak pake aksesoris yang menarik perhatian si monyet nakal hehehe...

Harga tiket masuk yang kita bayarkan adalah Rp 40.000,-/orang. Hal pertama yang gue cari begitu memasuki area hutan ini adalah papan informasi. Ini penting banget untuk kita ketahui loh, hal-hal apa yang boleh/enggak dilakukan selama berada disana, sekaligus nambah pengetahuan karena bisa baca asal-usul monkey forest dan statistik monyet yang hidup disini. Singkatnya, tetap berhati-hati ya walaupun katanya monyet-monyet disini lebih friendly daripada yang di Uluwatu tetap saja mereka kalau keberadaan mereka terganggu/terancam, sifat alami mereka untuk melindungi diri akan muncul.

Gue dan L cukup lama juga muter-muter disini, intinya gue suka suasana monkey forest yang asri, bersih, dan terawat. Udara disini juga sejuk banget, sekalipun kita kesini pas matahari sedang terik-teriknya.


Sepasang turis bule yang sedang berfoto dengan monyet. Monyetnya acuh tak acuh gitu setelah dapat pisang yang diincar hihi

Suasana Monkey Forest yang teduh karena banyak pohon-pohon besar di dalamnya

Berdasarkan informasi, monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest dikenal sebagai Macaca Fascicularis (Kera Bali). Ada sekitar 600 ekor yang hidup disini dan terbagi dalam 5 kelompok yang masing-masing beranggotakan 100-120 ekor monyet, mulai dari bayi (0-1 tahun), juvenil 1 (1-2 tahun), juvenil 2 (2-4 tahun), sub dewasa jantan (4-6 tahun), dewasa betina (>4 tahun), dan dewasa jantan (>6 tahun). 

Makanan utama monyet-monyet disini adalah ketela rambat dan diberi makan 3 kali sehari. Lihat deh sisa remah-remah ketela disamping kanan si L, bisa dibilang monyet disini terpelihara dengan baik karena ketersedian makanannya berlimpah.
Kita juga bisa membeli pisang di depan pintu masuk, harganya kalau gak salah satu sisir kecil 25k, yang besar 50k.


Pura Dalem Agung adalah salah satu dari tiga Pura yang terletak di Monkey Forest. 

Suasana di dalam Pura Dalem Agung, Puranya sendiri dikunci jadi kita cuma bisa ambil foto dari depan pintunya saja.
Disini kita sempat menyaksikan monyet-monyet yang lagi berjibaku juga hihihi

Monkey Forest selain dijadikan kawasan daya tarik wisata, ternyata juga merupakan lokasi penting bagi kegiatan penelitian dan program konservasi. Makanya kawasan ini ditata dan dikelola secara khusus, demi mendorong peneliti dari berbagai lembaga riset di seluruh dunia untuk mengadakan penelitian, khususnya yang terkait dengan perilaku dan interaksi sosial kera dengan lingkungan di sekitarnya.

Para turis banyak yang berfoto dengan latar belakang jembatan batu dan akar pohon tua yang besar.

Mari terus jalan...!!! lihat apa yang akan kita temui diatas sana....

Gue baru nyadar si L pake kaos gambar monyet pas ke Monkey Forest hihihi

Pas lagi jalan kaki mau pulang, kita sempat berhenti bentar untuk ngelihat si tante bule yang lagi
berfoto sama salah satu monyet hihihi, lucu deh monyetnya aktif banget naik-naik ke tangan, punggung,
dan terakhir naik ke kepala si tante, weleh-weleh...


Si L lagi ngobrol sama si Bapak yang merupakan staff Monkey Forest
Si Bapak ini juga yang dari tadi ngawasin tingkah laku monyet yang lagi beratraksi diatas.


Ini dia foto yang paling juara hihi, biar kata kualitas fotonya jelek karena cuma diambil pakai HP jadul gak apa-apa ya buat kenang-kenangan hihihi... Jadi abis ngobrol sama bapak diatas tadi, si bapak nawarin L mau gak foto sama monyet,
dan gak taunya langsung dipanggillah monyet bernama di Putu, yang dalam hitungan detik udah bertengger manis dipundaknya si L hahahahaa... 


Sacred Monkey Forest Sanctuary - Mandala Suci Wenara Wana
Jl. Monkey Forest, Padang Tegal, Ubud - Bali 80571
Tlp. 0361-971304
Buka setiap hari, pukul 8.30 pagi - 6 sore.



Belanja Oleh-Oleh di Krisna - Sunset Road

Sore itu sehabis jalan-jalan di Monkey Forest kita langsung ambil mobil di hotel lalu berangkat ke Kuta. Tujuannya selain mau beli oleh-oleh di Krisna, juga mau cari hotel di dekat sana, sekaligus kita makan malam di Kuta.

Sebelumnya gue udah diwarning sama L jangan khilaf beli oleh-olehnya karena kita masih harus terbang ke Bandung. Gak lucu kalau bagasi kita over kan, jadi beli oleh-olehnya selain emang gak banyak, juga jangan berat-berat. Akhirnya emang cuma beli cemilan ringan, satu kaos buat L, dan pernak-pernik buat sepupu gue. Oleh-oleh buat gue sendiri gak ada hehehe, lagipula kemarin kan udah beli ginger tea & lemon tea di Bali Pulina, anggaplah itu hadiah buat diri sendiri *ceritanya lagi berusaha menghibur diri sendiri* hihihi. Selesai berbelanja, semua belanjaan kita dikemas rapih di dalam kardus (bayar Rp 10.000,-) biar gampang dibawa nanti.

Selepas dari Krisna, kita jalan kaki sedikit ke Atanaya Hotel untuk tanya-tanya rate hotel, cuma L kurang begitu tertarik sama hotelnya. Yaudah, akhirnya kita balik lagi jalan kaki ngelewatin Krisna dan makan malam di D'Cost. Malam itu kita pesan makanan yang simpel banget, gue pesan mie goreng dan L pesan nasi goreng. Sambil ngunyah makanan, gue juga sambilan cari tiket penerbangan murah muahahaha, gilak ya lusa udah harus balik ke Bandung, gini hari belum dapat tiket. Untung aja sekarang pesan apa-apa gampil, tinggal pakai aplikasi hihi dan kebetulan banget banget, kita dapat tiket murah ke Bandung pakai Citilink. Berarti sekarang tinggal cari hotel untuk besok, karena kita ambil penerbangan paling pagi dari Denpasar, otomatis harus cari hotel yang lebih dekat ke Airport supaya gak terburu-buru pas jalan mau ke Airport.



Hotel Promo di Kuta Majesty

Jadi, malam itu setelah kesasar pas jalan pulang kembali ke Ubud, gue langsung menuju bussiness centernya Evitel buat pinjam komputer, check-in online Citilink, dan print boarding pass (ceritanya pernah gue tulis di part sebelumnya). Sedangkan si L kebagian tugas cari hotel untuk besok, lokasi pasti di Kuta dan harus dekat sama Airport. Gak berapa lama dia pun bersuara karena dapat promo hotel murah dari Travel*** jadi ada promo kamar superior tanpa sarapan cuma Rp 208.000,- menarik ya, dua ratus ribuan saja. Tapi tunggu, sebelum booking baiknya kita baca dulu review-review pengunjung hotel ini. Rata-rata reviewnya baik jadi kita semakin bulat buat booking hotel ini. Satu urusan kelar malam itu, senangnya....

Besok paginyaaaaa.....

Gue minta si L nyari sarapan di sekitaran Ubud, pertama kita emang gak dapat sarapan dari Evitel dan yang kedua gue pengen banget makan nasi bungkus bali yang enak dan murah itu hihihi... Jadilah pagi itu, si L yang belom mandi nyopir sendirian keliling jalan Hanoman nyari tukang nasi. Dia bilang akhirnya nemu Ibu yang jual nasi di dekat Pasar Ubud dan dengan polosnya dia tanya jual nasi uduk apa enggak. Ya tau sendiri donk jawaban si Ibu apa? Gak jual dek, di Bali gak ada nasi uduk hihihi...


Sarapan gue pagi itu... enak dan mengenyangkan!!! satu porsi nasi campur ini cuma 5k sajaaaa....

Abis sarapan, kita pun siap-siap untuk check out dan menuju hotel kita di Kuta yaitu Kuta Majesty Hotel, yang dulunya bernama Citihub Hotel.


Rate promo untuk kamar standar tanpa sarapan ditawarkan Rp 275.000,- sedangkan kita dapat RP 208.000,- untuk kamar yang lebih besar walaupun juga sama gak dapat breakfast juga, lumayan kan buat numpang tidur doank hihi

Kamarnya lumayan luas loh pakai lantai kayu juga, cuma amenitiesnya
minim banget deh, untung cuma semalem :D

Tempat tidurnya cukup nyaman, yang bikin senang karena dapat 4 bantal hihihi

Review hotel:
Gak banyak yang bisa gue review dari hotel ini karena kita memang gak tinggal lama disini alias cuma numpang tidur doank. Seingat gue gak ada kolam renang :p tapi ada lift. Kita juga gak nyobain sarapan disini jadi gak tau enak apa enggaknya hihihi... Tapi kalau kalian kelaparan dan resto udah tutup, trus males jalan jauh buat cari makanan, tinggal ngesot kesamping hotel aja ada resto chinese gitu, kayaknya sih enak deh.


Kuta Majesty Hotel
Jl. Raya Kuta No.78, Kuta, Kabupaten Badung, Bali
Telepon: (0361) 757812



Nostalgia di Warung Italia - Seminyak

Abis taruh barang-barang di hotel, kita keluar untuk cari makan sore. Gue sih pengennya makan babi guling, tapi apa daya kalah suara sama si L (suara sebagai bapak bendahara selama liburan maksudnya, ngerti donkkk hihi). Jadi gue manut aja pas doi bilang pengen makan di Warung Italia di Seminyak. Kita pesan beberapa menu, langsung lihat foto-fotonya aja yaa...


Nostalgia di Warung Italia - Seminyak, banyak yang belum tau kalau jalan ini searah, jadi banyak sekali kendaraan yang
lawan arah karena gak tau padahal di depan gang, papan petunjuknya jelas. Jadi yang mau menuju Warung Italia, masuknya dari sunset road ya ada pom bensin besar, masuk gang kunti sebelah pom bensin tsb. Jangan lawan arah (masuk dari Seminyak), bikin macet aja kalau kebetulan papasan sama kendaraan dari arah sebaliknya hihi...

Quattro Stagioni - segede gini cuma 80k

Tonno Aglio Olio - 55k, rasanya asiiiiinnnn banget, bisa dibilang cuma kemakan sedikit.

Meat Ball - 10k, kalau kata L rasanya mirip bakso lohua bikinan nyokap gue, tapi dikasi bumbu bolognese huehehe


Warung Italia
Jl. Kunti 1 No. 2 Seminyak - Bali
Tlp. 0361-8786728


Setelah kekenyangan, kita lanjut menuju ke Gereja St. Fransiskus Xaverius - Bali, untuk berdoa didalam Gua Maria gereja tersebut, sebagai wujud ungkapan syukur luar biasa karena akhirnya gue dan L dapat menikah dan berharap semoga pernikahan kami langgeng sampai ajal memisahkan. Amin.


Megahnya rumah Tuhan - Gereja St. Fransiskus Xaverius - Kuta

Berdoa di Gua Maria

Demikian cerita jalan-jalan aka honeymoon di Bali versi gue dan L, sampai jumpa di edisi honeymoon ke Bandung ya.... 

Tuesday, 28 June 2016

[Edisi Honeymoon] : Ubud - Bali - Bag.1

Hayooo ngaku, siapa yang menunggu-nunggu postingan soal honeymoon kami *ih dasar kepedean* hihihi... Sengaja sih ditulis belakangan setelah episode review vendor selesai sudah, padahal sebenarnya masih ada beberapa topik soal wedding yang mau dibahas, cuma kayaknya selang-seling aja sama topik lain kali ya biar yang baca gak bosen hehehe....

Yang pernah baca tulisan gue sebelumnya, pasti udah tau ya kalau destinasi honeymoon kami tadinya tuh ke Labuan Bajo, tapi H-1 minggu malah banting stir alias berubah tujuan. Gak berubah total sih, karena dasarnya memang kami udah beli tiket AA dari Jakarta ke Denpasar, yang mana kalau jadi ke Labuan Bajo kita tinggal tambah beli tiket Denpasar-Labuan Bajo. Singkatnya, gue sempat sedih dan kecewa sih karena gak jadi ke Labuan Bajo, tapi dipikir-pikir ada untungnya juga kami gak honeymoon kesana karena ombaknya lagi tinggi banget dan kami baru tau dari Kapten kapal yang tadinya kapalnya mau kami sewa, bahwa di Pulau Padar ada komodo. Ihiyyyy,... seram banget ya! musti waspada berkali-kali lipat nih.

Kami berangkat hari Senin, 6 Juni 2016 dengan penerbangan paling pagi *gak mau rugi, tiketnya murce soalnya hahahaha* perjalanan di udara terbilang lancar, walaupun gue sempat sakit pinggang karena kursi pesawatnya gak enak beud hahaha... Sesampainya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, L langsung menghubungi Pak Wayan Santika - owner Bali Mutia Rental, untuk janjian ketemuan ambil mobil rentalan yang akan kami sewa selama 3 hari kedepan (self driving). Kita dikabari bahwa yang akan antar mobil kita namanya Pak Kadek. Surprisingly, pas lihat mobilnya ternyata kami dapat Toyota Agya padahal sebelumnya kita deal sewa Daihatsu Ayla. Beruntungnya lagi mobilnya masih tergolong baru jadi selama nyetir gak ada keluhan berarti dan yang paling penting bersih hihihi... Untuk kebersihan ini, si L cerewet banget deh ke Pak Wayan, soalnya dulu kita pernah sewa mobil juga sama beliau dan mobilnya kotor, wuekkk!


Tiba di Bandara I Gusti Ngurah Rai - Bali

Sewa Agya cuma Rp 180.000,- per hari - very affordable, kan?

Setelah serah terima mobil sewaan, kami langsung meluncur cari sarapan :) gue langsung merekomendasikan supaya L nyetir ke arah Tuban - Kuta karena banyak yang jual sarapan pagi disana. Pertama, gue rekomen buat sarapan bubur di Laota tapi ditolak sama L dan yang kedua, gue rekomen ke Nasi Pedas Bu Andika, dan dia langsung setuju...


Sarapan Pagi di Kuta - Nasi Pedas Bu Andika

Nasi pedas Bu Andika yang katanya endeuss itu....

Piring kiri punya gue, isinya ada: Ikan teri, usus goreng tepung, dan oseng buncis - tanpa sambel :( lagi diare soalnya.
Piring yang kanan punya L, sisinya ada: Orek tempe, mie goreng, sayur tahu, dan sambel. L bilang sambelnya enak banget.

Harga yang kami bayar untuk sarapan enak dan mengenyangkan ternyata cukup terjangkau loh. Seporsi makan gue dihargai Rp 24.000,- dan satu porsi makanan L dihargai Rp 19.000,- kita juga pesan es teh manis yang sudah kita bayar duluan pas minumannya tiba, harganya lupa huehhehee....

Nasi Pedas Bu Andika
Buka 24 Jam
Jl.Raya Kuta, Gg.Kubu, No.120C, Badung, Kuta - Bali.

Setelah isi perut, kami nostalgia dikit nih - padahal sebenarnya mau isi waktu sambil nunggu jadwal check in di hotel hehhehe... Jadi kami putuskan untuk muter-muter ke Legian, Kuta dan Seminyak yang masih sepi, masih pagi gitu loh!


Foto dari balik kaca mobil, hasilnya burem deh :(

Kira-kira jam 12 siang, kami tancap gas menuju Ubud. Jalanan menuju Ubud lancar banget dan sesampainya di hotel kami, ternyata kami masih belum bisa check in karena kamarnya belum siap. Akhirnya daripada manyun nungguin kamar, kami memutuskan untuk ngebolang di Ubud.


Museum Antonio Blanco (The Blanco Renaissance Museum)

Kunjungan ke Museum memang jadi salah satu agenda kami, walaupun gak semua Museum yang ada di Ubud mau kita kunjungi semuanya hahahaha *lalu lebih berasa kayak study tour dari pada honeymoon* Dari hasil baca-baca di internet akhirnya terpilihlah Museum Antonio Blanco yang masuk ke itin kami. Sesampainya kami di pintu masuk Museum, awalnya agak binggung loh, kok museumnya gak terlihat ya dari depan hahahaha, ternyata kami harus melewati jalanan menanjak dulu untuk sampai ke depan Museumnya. Setelah sampai tempat parkir wow, bagus deh pemandangannya. Gak heran soalnya letak Museum ini memang diatas jadi pemandangan sungai dan jembatan di bawahnya terlihat jelas.


Papan petunjuk :)

Kami ambil foto ini pas jalan pulang, terlihat ya kalau pas perginya kita harus melintasi jalan menanjak.

Mari masuk dulu dan beli tiket ya...

Tiket masuknya Rp 30.000,- perorang yang bisa ditukarkan dengan minuman dan snack. Penasaran kayak apa minuman & snacknya? tungguin ya!

Melewati patung Dewa Siwa yang berada di tengah-tengah taman setelah pintu masuk tadi.

Lalu disambut burung-burung cantik ini

Ternyata ini pintu masuk Museum yang sebenarnya ^^
Gapura dari batu diatas itu, katanya diambil dari tanda tangan dari Antonio Blanco.

Bangunannya bisa dibilang mewah loh dan unik

Foto bersama 'foto' terakhirnya Antonio Blanco.
Kita cuma diperbolehkan ambil foto terakhir disini sebelum memasuki area dalam Museumnya,
Masuk kedalam, dilarang foto-foto lagi ya.

Ehm, jujur ya di dalam Museumnya gue dan L agak bosen sih huehehehe... Kita mengelilingi tiga lantai bangunannya isinya lukisan semua dan kayaknya kita berdua kurang bisa menikmati setiap lukisan yang ada. Sebelumnya kita pernah baca-baca sih kalau rata-rata lukisan yang ada disini fokusnya adalah wanita dan seperti yang dikutip dari Wikipedia, bisa dikatakan bahwa Antonio adalah seorang pelukis feminin abadi dan merupakan seorang maestro lukisan romantik-ekspresif.


Balik lagi foto ke halaman luar yang puanasss banget...
Ohya, di Museum ini kita macam diarahkan gitu sama berbagai papan petunjuk arah, jadi abis dari ruangan ini, kita diminta
keruangan berikutnya dan kita gak bisa seenak jidat skip ruangan tsb karena Mbak2 yang jaga akan mengawasi kita dan
mengarahkan kita....

Lalu kita bergegas ke Rondji Restaurant untuk menukarkan tiket masuk kita dengan minuman dan snack.
Rondji sendiri diambil dari nama Ni Rondji, istri Antonio Blanco.

Kita pilih tempat duduk yang paling luar, yang viewnya cakep

Kita dapat dua gelas minuman dingin rasa lime gitu dan kerupuk hihihi... Ukurannya mini sekali, cuma numpang lewat di tengorokan muahahahhaa... 

Sebelum pulang, ada yang minta difotoin dulu sama Mobil VW Combi :)

Museum Antonio Blanco (The Blanco Renaissance Museum)
Campuhan, Ubud - Bali 80571
Jam buka: 9 Pagi - 5 Sore


The Evitel Resort Ubud

Hotel kami ini lokasinya strategis banget yaitu di Jl. Monkey Forest, mau ke Monkey Forest tinggal jalan kaki aja Bung! Mau makan enak tinggal jalan kaki juga, di sekeliling hotel juga ada mini market dan tempat laundry. Dan satu hal yang bikin gue jatuh cinta sama suasana Ubud adalah tenang banget, jauh banget sama hiruk pikuk turis macam Kuta dan Seminyak. Pokoknya sejauh ini gue menobatkan Ubud adalah daerah terenak buat ditinggalin selama di Bali hihihihi....


Evitel Resort Ubud - si Ungu yang mencolok di tengah Ubud

Bangunan depan hotelnya

Lobby hotel yang sederhana

Kami booking hotel ini lewat Traveloka Apps untuk dua malam karena setelah dibandingkan dengan aplikasi lain jatuhnya jauh lebih murah. Proses check in juga cepat dan mudah. Sebelumnya gue sempat rekues minta kamar yang hadap ke sawah tapi ternyata sawahnya menguning donk bukan hijau2 gitu, jadi waktu pertama sampai di hotel ini (sebelum bisa check in), gue langsung minta tukar kamar yang hadap taman hehehe... Dan si L gak senang donk, doi bilang gak apa-apa sawahnya kuning, jadi pas kita mau check in, L minta lihat kamar yang hadap sawah dulu dan reaksi dia? Iya yah jelek sawahnya... Ihhh kan gak percaya dibilangin dari tadi!


Buka pintu kamar, kita kesenengan gitu kamarnya dihias yeayyyy.... Rupanya gak ada salahnya mention pada saat reservasi kalau kita pergi dalam rangka honeymoon... hihiyyyy

Ciyeeee, angsanya lagi kiss..kisss... *tutup mata*

Review sedikit mengenai hotelnya:
Hotelnya bagus dan masih baru, harganya cukup terjangkau, rate normalnya diangka 700ribu sekian untuk superior room, tapi kemarin kami dapat harga 506ribu tanpa sarapan.

Fasilitas hotelnya standar bintang tiga, ada kolam renang, restaurant, bisnis center dan fitness center (ruangannya gabung jadi satu), parkir basement dll. Untuk fasilitas dalam kamar bisa dibilang gak gitu lengkap banget, tapi cukup mengakomodir: Ada peralatan mandi lengkap, teko air panas, kopi-teh-gula dalam sachet, brankast, kulkas mini dan kami dapat 4 bantal. Kamar mandinya ada kaca tembus pandang yang menghadap ke tempat tidur, tapi jangan risih dulu ada tirai buat nutupin kok ^^

Selain itu, karena waktu reservasi kami memang tulis dalam rangka honeymoon, jadi sama staff hotel kamar kami dihias, walaupun gak dikasih buah/cake huahahaha ngarep banget ya judulnya! Ohya, kami juga dikasih kamar di lantai dasar dengan balkoni yang luassss banget.

Kesimpulannya, kami senang sama pelayanan Evitel selama kami tinggal disana, semua staffnya ramah-ramah dan helpful, termasuk pas malam-malam gue mau online check-in di webnya Citilink pake komputer di bisnis centernya mereka, internet lancar banget, dan pas giliran mau print boarding pass (maksudnya biar pas di airport gak usah repot2 lagi gitu), gue tanya receptionist yang lagi stand by saat itu, ada printer yang tersambung dari komputer di bisnis center gak, dia bilang gak ada, trus Mas-nya nanya mau print apa Bu? gue bilang mau print boarding pass, lalu dia kasih solusi suruh gue copy file di flashdisc (untung gue bawa) lalu dia akan bantuin print di printer reception. Wuih baik banget, gue pikir kan ada biaya ya, gue bilang dia suruh masukin ke tagihan kamar gue, kebetulan emang ada laundry juga, eh dia bilang free bu! Asikkk...


Ini yang gue bilang balkonnya besar, yang masuk frame cuma setengahnya. Kamar sebelah kiri gue, kecil banget balkonnya soalnya, apa jangan-jangan beda tipe kamar ya? #entahlah

Suasana tamannya kayak gini, lumayan cantik dibandingkan dengan pemandangan sawah yang menguning hihi
Eh, lihat juga kan balkonnya kecil?

Kolam renangnya terletak di rooftop hotel

Kolam renang anak, sayangnya baik kolam renang anak ataupun dewasa, airnya bukan air hangat :p

Ini bagian restorannya, kolam renangnya ada di sebelah kanan foto. Dan bangunan di seberang sana itu Tegal Sari Ubud.
Kami sempat main-main kesana, tanya rate dll lumayan buat referensi nanti kalau ke Ubud lagi, dan yang bikin sirik sawahnya Tegal Sari itu hijauuuu, jadinya bagussss T___T

Pemandangan sawah dari rooftopnya Evitel, kan kuning kannnn warnanya....

Sawahnya Tegal Sari yang lebih hijau, memang ya rumput tetangga terlihat lebih hijau huahhahaa

The Evitel Resort Ubud
Jl. Monkey Forest, Ubud, Kec. Gianyar, Kabupaten Gianyar, Bali
Telepon:(0361) 9080168



Early Dinner di Warung Semesta - Ubud

Hari itu, kami jadinya skip makan siang karena masih kekenyangan akibat sarapan terlalu banyak paginya. Akibatnya sore-sore kami udah kelaparan huahahhaa... kami jalan kaki keluar hotel deh cari makan, sempat jalan sampai sebelum pintu masuk Monkey Forest sampai akhirnya gue putar balik menuju arah hotel lagi karena lihat ada monyet turun ke jalan :( tatuttt... Kami keingetan baru tadi perasaan ngelewatin Warung Semesta deh, lokasinya gak jauh dari hotel kami, arah ke Monkey Forest. Kami putuskan untuk early dinner disana, cihuyyyy harapan gue untuk "makan bersih" di Ubud terlaksana! hahahaha...


Suatu sore di Warung Semesta :)

Apa yang kami pesan? kalau gue sih pastinya menu vege, jadi pilihan gue jatuh ke Nasi Bakar Kampoeng, sedangkan L dia pesan menu non-vege *ihhh gak asik ya anaknya* jadi pilih Nasi Goreng Ayam deh dia. Sambil nunggu makanannya dimasak, kita foto-foto dulu deh suasana restonya.


Fresh young coconut, anyone?

Interior resto bagian dalam

Kami lebih pilih duduk di teras samping, sambil menikmati angin sore yang sepoi-sepoi...
Di belakang sana ada Rumah Semesta, officenya Tegal Sari Ubud & Warung Semesta, dan ada jalan kecil yang bisa tembus ke hotelnya, abis makan kita sempatin main-main kesana juga.

Lalu kita dikasih sekaleng alat makan hihi, unik ya sendok-garpunya diletakan di kaleng bekas buah kalengan.
Go Green!!!

Kita juga dikasih free sepiring kripik bayam, krraaauukkkk....

Pesanan nasi goreng ayam dan kelapa muda dingin untuk L datang juga, rasanya lumayan nikmat katanya

Nasi Bakar Kampoeng pesanan gue, porsinya besar banget!!! Nasinya sendiri enak banget karena udah dibumbuin rempah-rempah gitu dan dikasiin jamur dan telur. Sedangkan menu pelengkapnya ada tempe & tahu goreng, perkedel, bakwan jagung, dan plecing kangkung, semuanya enakkkk.... saus tomatnya juga enak, agak sedikit pedas.

Sore itu perut kami termanjakan banget deh, makanannya enak-enak semua. Untuk harga makanan di Warung Semesta sebagai berikut ya: Nasi Goreng Ayam Rp 42.500 , Nasi Bakar Kampoeng Rp 45.000, Kelapa Muda Rp 15.000, Es Teh Manis (lupa harganya hihihi)... Ohya, disini kalian juga bisa ikut Cooking Course loh, harga paketnya Rp 300.000,- per orang (minimum 2 orang). Kita akan diajari memasak beberapa menu makanan, dari hidangan pembuka sampai hidangan penutup. Kapan-kapan boleh nih dicoba :D

Warung Semesta
Jl, Monkey Forest - Padangtegal Ubud
Delivery service: 0361-970677 (min. order 100K)
Jam buka: 10 Pagi - 9 Malam

Sekian dulu ya cerita honeymoon kita di hari pertama, udah kepanjangan soalnya muahahhaa....