Tuesday, 22 March 2016

Ketika Gengsi Lebih Besar Dari Pendapatan

Berhubung lagi males banget ngebahas soal persiapan wedding dan perintilannya, dan juga kayaknya sumpek banget ngebahas berita aksi demo anarkis supir taksi yang menolak kendaraan umum berbasis aplikasi, jadi mari kita ngobrol topik lain yang lebih ringan (atau jangan-jangan lebih berat?) #eh

Soal apa?

Soal GENGSI!

Gengsi jelas bukan bagian dari gengster *lalu yang baca nyinyir*. Pengertian simplenya gengsi adalah rasa dimana takut akan jatuhnya harga diri. Nah gak usah jauh-jauh ya ngomongin orang lain disini, gua mau membahas diri sendiri aja yang kadang suka ehmmm, gengsi!

Ada kalimat yang mengatakan begini: "Ketika pendapatan meningkat, juga dibarengi juga meningkatnya gaya hidup/pengeluaran". Setuju gak? 

Back to 2008, dimana gue baru-baru mulai kerja sambil kuliah saat itu, gue termasuk orang yang gak neko-neko. Beli barang yang harganya pas dikantong aja. Gak mikirin merk, yang penting bisa dipakai dan nyaman. Belinya pun gak melulu harus di dept store, beli di toko-toko dalam pasar pun gak masalah.

Tapi seiring dengan kenaikan pendapatan yang gak seberapa itu, disertai dengan meluasnya pergaulan, lama-lama kebiasaan konsumtif yang tidak sehat pun berlangsung. Ambil contoh ya, misalnya mulai agak fanatik mau beli baju dan sepatu di toko tertentu dengan merk tertentu juga, belum lagi jajan-jajan yang kekinian, dan bayangan liburan kemana-mana yang ngabisin duit. Nah kalau udah "maunya" gak ketulungan, bahkan disaat lagi bokek pun keinginan-keinginan itu tetap terpenuhi dengan cara bayar pakai kartu kredit. Saat transaksi sih mikirnya gampang, ah bayar bulan depan ini! Belum lagi godaan belanja online yang jadi racun banget deh ahhh... Gue pernah loh uninstall instagram cuma buat menghindari godaan lapar mata doang! dan tetap aja gak berhasil hihihi... yang ada gua install lagi.

Cerita diatas itu, contoh kasus nyata diri gue doang loh. Ada lagi nih fakta yang lebih mengejutkan yaitu dalam suatu studi kasus yang dilakukan oleh sebuah lembaga riset diketahui bahwa 28% orang Indonesia memiliki pengeluaran yang lebih besar dari pendapatannya. Survei juga membuktikan bahwa tipe orang seperti ini akan meminjam uang agar bisa membeli barang yang dapat menaikkan status sosial mereka.

Kira-kira kita termasuk dalam kelompok masyarakat yang 28% itu gak ya? *mikir keras*

Sekarang ini karena bertepatan dalam rangka menyambut 17 Agustus, eh enggak ding... dalam rangka membangun keluarga baru, uhuk! Jujur kalau gue pribadi masih suka gengsi-gengsi gitu kapan punya cukup tabungan dan biaya darurat, kakak....!!! Sekarang ini bisa dibilang gue punya tabungan dengan nilai gak seberapa, apalagi dana darurat? itu jadi satu sama si tabungan itu. 

Padahal harusnya tabungan ya tabungan aja, ada yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang, sedangkan dana darurat itu merupakan dana cadangan yang kita simpan untuk keperluan darurat kayak misalnya *amit-amit* jika ada musibah, PHK, dan urusan lain-lain. 

Lalu gimana cara mulainya?

Pertama, jangan manjakan gengsi. Gengsi itu bisa dikatagorikan salah satu penyakit jiwa gak sih btw? Kedua, gue harus bisa menerapkan gaya hidup HEMAT, hemat loh ya bukan pelit atau medit - salah satu contohnya adalah dengan membiasakan diri mengenali mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Nah kalau misalnya kita udah tau itu cuma keinginan, tapi barang yang mau dibeli kelewat cute untuk dilewatkan gimenong??? BYE, harus tegalah pokoknya *yakin? yakin? yakin? ngeledek diri sendiri*. Ketiga, ya rajin menabung RUTIN dan mulai berinvestasi.


Yang gak boleh lupa juga adalah jangan lupa bersyukur dan beramal karena semua yang kita terima itu hanya titipan dari yang di-Atas dan didalam rejeki yang kita dapat ada hak orang lain untuk menerimanya. So, jadilah saluran berkat bagi orang lain.

Harapannya dengan mengubah gaya hidup konsumtif ini, moga-moga suatu saat keluarga gue dan kalian juga bisa mencapai kebebasan financial. Kondisi yang bikin kita gak perlu khawatir soal uang, cara sederhananya ya kaya yang gue sebutin diatas misalnya. Awalnya berat sih pastinya ya kayak kalau kita sepanjang waktu makan enak trus mendadak harus diet, kebayang gak? tapi demi masa depan harus rela berbenah dari sekarang. Semoga berhasil _/\_

6 comments:

  1. setuju ci, seumuran kita emang udah saatnya mikirin investasi, gaji kita gak boleh abis cuma buat biaya idup doank.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Keseringan selama ini gaji emang habis gitu aja, kalai dipikir-pikir sayang banget ya.

      Delete
  2. setuju nicccc.. hahahahaa. kadangan gua juga suka gitu. sukaan gengsi. lol. terima kasih udah ingetin lagi. iya nih harus hemat..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Parahnya kita gak sadar loh hahaha... Yuk marih hidup hemat *kekepin dompet & pasang kacamata kuda*

      Delete
  3. Yoii bener2.. dulu g juga gt lbh besar pasak drpd tiang.. wkwkwkwk.. mungkin krn efek baru lulus kuliah dan menikmati gaji sendiri x yah tp sejak uda punya anak uda lbh pilah pilih.. baguslah u malah uda prepare dr skg..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahhaha, gaji sampe minus ya mbe! Iya nih semangat yah kita...

      Delete

Sampai Nanti

Hola semuanya,  Entah sudah berapa lamanya ya gak nulis disini. Sudah ganti bulan banyak banget, malah sudah ganti tahun juga.  Gue j...