Monday, 17 August 2015

Mengejar Matahari Terbit Borobudur

Pagi itu di hari Kamis tanggal 6 Agustus 2015, sekitar pukul 04.30 pagi gue sudah berada di sebuah mobil yang akan membawa gue menjelajah selama 3 hari ke depan di Jawa Tengah. Kota pertama kali yang akan gue singgahi yaitu Magelang, sebuah kota cantik nan bersahaja di mata gue. Perjalanan dari Tangerang ke Magelang memakan waktu 12 jam dengan catatan kondisi jalan lancar, ketemu sedikit perbaikan jalan di beberapa ruas, dan jarang berhenti untuk istirahat alias non-stop
Untuk penginapan, sebelumnya gue sudah booking kamar online lewat aplikasi Traveloka di Android, nanti gue bahas secara terpisah yak seputar hotelnya. 

Jumat, 7 Agustus 2015
Jam 3 pagi, walaupun mata masih kriyap-kriyep (maaf bahasa gue emang aneh, hahaha) dan badan masih capek akibat kelamaan duduk di mobil kemarin, tapi gue berusaha untuk bangun dengan penuh semangat. Berbekal sarapan roti yang dibeli kemarin malam, kita langsung berangkat ke Hotel Manohara untuk Sunrise Borobudur, yeay!
Inilah salah satu alasan kenapa gue singgah di Magelang, ya untuk berkunjung ke Candi Borobudur, Candi Buddha terbesar di Indonesia. Singkat kata, gue belum pernah kesini *tutup muka* dan berjanji kalau suatu saat gue punya kesempatan ke Borobudur, gue janji akan menikmatinya dengan cara yang beda hihi #sokantimainstream

Di Instagram, gue pernah posting kalau gue pingin banget melihat matahari terbit dari Puthuk Stumbu yang mana (kalau cuaca cerah) kita bisa melihat matahari terbit yang cantik serta melihat bayangan Candi Borobudur dari atas bukit. Tapi karena alasan lokasi yang cukup jauh, harus pakai ojek, dan tracking di pagi-pagi buta, yasudahlah makasi mas! kita ambil paket tur Sunrise dari Hotel Manohara saja, lebih mahal tapi lebih nyaman gak apa-apa toh.

Borobudur Nirwana Sunrise - Bukit Puthuk Stumbu
Sumber gambar dari sini.
Counter tiket Sunrise Borobudur Hotel Manohara berada di belakang lobby hotelnya dan baru dibuka pukul 04.00 pagi (kemarin sempat molor 10 menit sih), tapi hasil gue ngobrol-ngobrol dengan seorang Ibu yang juga peserta tur, beliau sudah sampai di hotel sejak jam 03.00 hebat ya, niat banget! Beliau juga cerita kalau tadi sempat dikejar-kejar tukang ojek yang menawarkan paket sunrise ke Puthuk Stumbu, bahkan dikejar sampai depan hotel, sama dong kita juga!
Harga tiket Sunrise Borobudur adalah Rp 250.000,- untuk wisatawan domestik, kalau kita merupakan tamu Hotel, kita dapat diskon 20 ribu, jadi cuma bayar Rp 230.000,- sedangkan untuk turis mancanegara tentu saja lebih mahal (Rp 380.000,-). Harga tiket yang kita bayarkan sudah termasuk tiket masuk (sebelum jadwal beroperasinya Taman Wisata), lampu senter (dipinjamkan), light snack, dan souvenir.

Manohara - Center of Borobudur Study
(Ini loket tiketnya, masih sepi banget saat gue sampai. Loket mulai padat sekitar pukul 04.20)

Pintu pendakian dibuka pukul 04.30. Rata-rata peserta tur 80% terdiri dari turis mancanegara yang rata-rata ditemani pemandu mereka. Sebelum pendakian, para petugas hotel yang ramah-ramah sekali itu menjelaskan rute pendakian, jalan kembali ke hotel, tempat ambil snack, dan tempat tukar souvenir kepada kami. 

Saran gue buat kalian yang mau coba tur ini, jangan lupa siapkan stamina sebaik mungkin ya. Memang kelihatannya sepele sih cuma mendaki Borobudur, tapi buat orang yang jarang sekali olah raga kaya gue berasa banget deh, nafas ngos-ngosan harus mendaki cepat karena harus mengejar matahari terbit itu sendiri, dan harus mengimbangi langkah kaki para bule yang jalan di depan dan belakang gue, hosh! Sampai di puncak tertinggi Borobudur, disaat yang lain lagi cari posisi terbaik untuk hunting Sunrise, gue malah cari posisi uenak buat istirahat haha. Ohya jangan lupa bawa air minum juga ya biar kalau kehausan gak repot.

Tampang cenggok lagi berusaha mengatur nafas hahaha
Saat yang ditunggu-tunggu pun tiba, langit yang tadinya gelap mulai menunjukan semburat keunguan yang lembut, suatu pertanda bahwa sebentar lagi matahari terbit.

Detik-detik mengagumkan menunggu matahari terbit, dibawah tempat gue berdiri banyak para turis yang sudah standby
dengan tripod dan kamera mereka. 
Waktu terbaik untuk berburu matahari terbit di Candi Borobudur adalah pada bulan Mei hingga Juli.
Mengingat bulan-bulan tersebut adalah awal musim kemarau di Indonesia dan cuaca sedang cerah-cerahnya.
Sunrise was so magical, mystical, and breathtaking.
Gue masih membayangkan bagaimana Stupa-Stupa ini bisa dibuat pada zaman Wangsa Syailendra,
 yang tentunya belum mengenal teknologi seperti sekarang ini, sungguh mengagumkan.
Arca Buddha yang tengah duduk bersila dalam posisi tertatai sempurna, menjadi salah satu obyek foto favorit para wisatawan
Mengejar matahari terbit, seperti mengejar sebuah harapan baru :)
Entah mengapa, disaat-saat seperti inilah (sepi dan begitu dekat dengan alam) gue merasa begitu kecil.
Ritual mengucap syukur pada semesta.
Relief-relief di Candi Borobudur sangat indah, bahkan dianggap sebagai yang paling elegan dan anggun
dalam kesenian dunia Buddha.
Relief Borobudur menampilkan banyak gambar; seperti sosok manusia baik bangsawan, rakyat jelata, atau pertapa,
aneka tumbuhan dan hewan, serta menampilkan bentuk bangunan tradisional nusantara.
Borobudur tidak ubahnya bagaikan kitab nyata yang merekam berbagai aspek kehidupan masyarakat Jawa kuno.
Panorama perbukitan Menoreh yang menawan.
Potret kemegahan Candi Borobudur diambil dari sebelah tenggara,
 yang berbatasan langsung dengan pintu keluar kami menuju kembali ke Hotel Manohara.
Setelah puas menikmati keindahan Candi Borobudur, gue langsung balik menuju Hotel Manohara untuk snack time dan mengambil souvenir. Kebetulan ada beberapa foto yang gue ambil disekitaran hotel, daripada dibuang gue share disini aja yak hihi..

Patung anak kecil yang meniup suling sedang naik kerbau, ada yang tau maknanya?
Patung Buddha emas.
Thank you Manohara Hotel, semoga lain kali berkesempatan bermalam disini
Pagi itu gue senang banget-nget deh. Bukan hanya akhirnya kesampaian juga ke Borobudur tetapi lebih dari itu - yang tidak bisa diungkapkan kata-kata. Mungkin untuk sebagian orang perjalanan gue ini sangatlah biasa atau bahkan tidak begitu menarik. Tapi kembali lagi, setiap orang memiliki impian destinasi wisatanya sendiri dan selera travelling setiap orang selalu berbeda.

Perjalanan kali ini ditutup dengan sepiring kue yang telah disediakan pihak Hotel Manohara, ada serabi pandan dan sepotong pisang goreng keju, tidak lupa ada pilihan teh atau kopi yang bebas kita pilih. Setelah ganjel perut, lampu senter yang tadi dipinjamkan pun gue tukarkan dengan souvenir berupa shawl berwarna biru bercorak Borobudur, lumayan buat kenang-kenangan hehehe...

"Menikmati warisan sejarah dan keindahan Candi Borobudur tentunya akan menjadi sebuah pengalaman bagi gue. 
Aura kesederhanaan dan kedamaian Borobudur tidak akan terlupakan"


4 comments:

  1. gw baru tau loh kalo ada tour melihat sunrise di borobudur. Mau dong review hotelnya.. siapa tau bisa jadi referensi ^^

    ReplyDelete
  2. Bisa kok Mel, Hotel Manohara menyediakan berbagai macam paket tur, diantaranya Sunrise dan Sunset Borobudur. Iya nanti gue review ya penginapannya.

    ReplyDelete
  3. Waktu itu gw sempet ngusulin manohara, pas tau harganya pada mundur teratur..wkwkww..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Manohara memang agak tinggi ratenya ya Py, paling murah sejutaan hihi..

      Delete

Sampai Nanti

Hola semuanya,  Entah sudah berapa lamanya ya gak nulis disini. Sudah ganti bulan banyak banget, malah sudah ganti tahun juga.  Gue j...