Thursday, 21 July 2016

[Edisi Honeymoon] : Ubud - Bali - Bag.2

Masih edisi honeymoon di Ubud - Bali, yang belum baca bagian pertama silahkan mampir kesini dulu ya ^^ mariii lanjut ceritanya...

Hari kedua di Ubud, kami pergunakan untuk mengunjungi beberapa tempat wisata. Rencananya kalau gue bisa bangun pagian dikit, kita mau jogging ke Campuhan Ridge Walk, keren ya namanya!!! tapi donk gue bangunnya kesiangan hihihi padahal udah niat banget loh bawa sepatu lari segala trus pelajari rute menuju kesana. Dan kalau jadi jogging, pulangnya sekalian mampir ke Pasar Seni Ubud, ya tapi kan gak jadi jogging yaudah ke Pasar Seni Ubudnya juga lain kali aja :p

Pagi itu diisi dengan kegiatan berenang lalu lanjut sarapan ringan dan siap-siap berangkat ke salah satu obyek wisata agrotourism yang cukup terkenal belakangan ini, apa itu??? simak dibawah ini ya *sok misterius*


Bali Pulina

Berhubung selama honeymoon ini, kami tinggalnya di Ubud jadi sebisa mungkin jalan-jalannya juga dekat-dekat sini. Setelah browsing akhirnya gue menemukan Bali Pulina ini, perjalanan dari hotel kami kira-kira memakan waktu 40 menit, kita akan melewati Ceking Terrace yang terkenal itu dulu, baru nanti di sebelah kiri gak jauh sampe deh ke Bali Pulina. 

Harga tiket masuk yang dibandrol adalah Rp 100.000,- per orang, tapi jangan protes mahal dulu ya karena begitu sampai di pintu masuk Bali Pulina kita akan ditemani seorang pemandu yang akan memberikan penjelasan mengenai berbagai tanaman, khususnya kopi, lalu kita akan dibawa juga untuk melihat langsung binatang luwak dan memberi makan juga, melihat proses pengolahan kopi yang masih pakai tungku (yep, tradisional banget!!!) dan terakhir bagian yang paling gue dan L suka hihihi... coffee and tea testing hehehee... free loh karena sudah termasuk harga tiket yang kita bayarkan tadi.


Sudah sampai di Bali Pulina :)

Yang punya blog numpang foto dulu ya hehehehe

Ini yang namanya binatang luwak, luwak ini termasuk hewan yang agresif loh jadi jangan coba-coba iseng masukin tangan
ke dalam kandang ya bisa digigit

Gue coba kasih makan si luwak. Sebelum makan buah kopi ini biasanya dia akan cium-cium dulu. Ternyata oh ternyata...
kata Bli yang memandu kita, si luwak ini hanya akan makan biji kopi yang sudah matang dan bagus. 

Tumpukan biji kopi putih itu adalah hasil kotoran si luwak, etsss jangan jijik yaa...
karena sebelum dijadikan kopi luwak, kotoran tadi harus melewati serangkaian proses pengolahan yang panjang banget

Kita sampai di area cafenya Bali Pulina, disini kita bisa tukarkan potongan tiket kita untuk coffee and tea testing,
kalau mau cemil-cemil cantik juga bisa kok ^^

Kukis homemade yang dijual perkeping seharga Rp 5.000,- ada yang mau coba?

Sambil menunggu kopi & teh kita disiapkan, kita foto-foto dulu di Kembang Kopi Stage, pemandangannya bagusss...

Stagenya berbentuk daun kopi, kreatif ya

Percayalah kalau lihat langsung, jauh berkali-kali lipat lebih cantik viewnya
*jangan bilang karena ada guenya jadi jelek ya, tujes nih hihihi*

Gak lama kopi dan tehnya datang, plus kripik singkong... Total dikasih 8 cangkir teh dan kopi, kira-kira mana yang jadi favorit kami ya?

Eh gak lama setelahnya pisang goreng madunya datang, lihat deh muka si L mupeng banget hahaha

Penampakan jelas si pisang goreng madu, ini beneran enak loh!

Sambil dinikmati gitu minum tehnya hahaha...

Kita juga bisa pesan kopi/teh lagi loh tapi dibatasi hanya satu gelas per orang ya. Rasanya bisa pilih sesuai favorite kita,
gue akhirnya pilih ginger tea dan L pilih chocolate coffee... Terbukti kan kalau kami berdua memang bukan coffee lovers!!!

Setelah selesai ngopi, sebelum pulang kita mampir ke gift shop Bali Pulina dulu.
Di dalamnya dijual produk kopi dan teh yang tadi disediakan ke kita. Harganya lumayan pricey kalau kata gue hihi

Contoh produknya yang lain... Akhirnya gue beli satu ginger tea dan satu lemon tea, harganya masing-masing 110k

Bali Pulina
Banjar Pujung Kelod, Tegallalang, Kec. Gianyar, Bali
HTM Rp 100.000,- per orang (ditukar dengan coffee & tea testing dan snack)



Makan Siang di Bebek Bengil - Ubud

Dari Bali Pulina, tadinya kami mau mampir Ceking Terrace yang terkenal itu. Banyak para turis bule yang mampir juga kesana, tapi berhubung perut kami keroncongan, kami putuskan untuk pulang dan cari makan dekat hotel. Sampai di hotel, kami cuma numpang parkir mobil aja sih hihihi karena cari parkir di Bebek Bengil itu susah banget. Nah dari hotel kita tinggal jalan kaki gak sampe 5 menit udah sampe deh.


Bebek Bengil - Ubud Bali, yang terkenal dengan original crispy duck-nya sejak tahun 1990

Sesampainya di resto, kami langsung request mau duduk yang viewnya hadap sawah, sempat putar-putaran dulu sih nyari tempat duduk yang oke sampai akhirnya dapat yang lesehan. Gak lama setelah buka buku menunya, kita langsung order, yang pasti gue gak order menu bebek karena gak doyan.

Ini dia menu yang kita pilih untuk makan siang:


The original crispy duck (pesanan L) disajikan dengan sayur bali, tiga aneka sambal, dan sepotong semangka.
Harganya 125k

Nasi campur bali, pesanan gue. Harganya 75k

Seingat gue, Nasi Campur Bali yang gue pesan rasanya biasa aja. Porsinya jumbo, gue gak bisa habisin semuanya. Sedangkan kalau menurut L, bebek goreng pesanan dia enak banget. Sebelum pulang, kita sempatin foto-foto suasana outdoor di restonya, lumayan dapat foto sawah yang hijau :p


Bebek Bengil banyak juga cabangnya, selain di Ubud, ada juga di Nusa Dua dan Uluwatu.
Diluar Bali, cabangnya ada di Menteng - Jakarta dan di The Breeze - BSD City.


Salah satu tempat yang enak untuk bersantap, lesehan! viewnya sawah, ademmmm....


Sawah hijau di dalam resto

Bebek Bengil - Dirty Duck Diner
Jl. Hanoman, Padang tegal, Ubud - Bali 80571
Tlp. 0361-975489/ 977675



Monkey Forest - Ubud

Sehabis makan siang, kita lanjut bakar kalori hihi alias jalan kaki menuju Monkey Forest. Jaraknya dekat banget, gak pake cape deh, udah gitu pedestrian di Ubud ini emang asik banget, teratur dan rapih semua. Ini kali pertama gue dan L ke Monkey Forest, tapi sebelumnya kita berdua pernah ke tempat wisata banyak monyetnya juga di Uluwatu. Jadi lumayan kita udah persiapan untuk gak pake aksesoris yang menarik perhatian si monyet nakal hehehe...

Harga tiket masuk yang kita bayarkan adalah Rp 40.000,-/orang. Hal pertama yang gue cari begitu memasuki area hutan ini adalah papan informasi. Ini penting banget untuk kita ketahui loh, hal-hal apa yang boleh/enggak dilakukan selama berada disana, sekaligus nambah pengetahuan karena bisa baca asal-usul monkey forest dan statistik monyet yang hidup disini. Singkatnya, tetap berhati-hati ya walaupun katanya monyet-monyet disini lebih friendly daripada yang di Uluwatu tetap saja mereka kalau keberadaan mereka terganggu/terancam, sifat alami mereka untuk melindungi diri akan muncul.

Gue dan L cukup lama juga muter-muter disini, intinya gue suka suasana monkey forest yang asri, bersih, dan terawat. Udara disini juga sejuk banget, sekalipun kita kesini pas matahari sedang terik-teriknya.


Sepasang turis bule yang sedang berfoto dengan monyet. Monyetnya acuh tak acuh gitu setelah dapat pisang yang diincar hihi

Suasana Monkey Forest yang teduh karena banyak pohon-pohon besar di dalamnya

Berdasarkan informasi, monyet yang hidup di dalam kawasan Monkey Forest dikenal sebagai Macaca Fascicularis (Kera Bali). Ada sekitar 600 ekor yang hidup disini dan terbagi dalam 5 kelompok yang masing-masing beranggotakan 100-120 ekor monyet, mulai dari bayi (0-1 tahun), juvenil 1 (1-2 tahun), juvenil 2 (2-4 tahun), sub dewasa jantan (4-6 tahun), dewasa betina (>4 tahun), dan dewasa jantan (>6 tahun). 

Makanan utama monyet-monyet disini adalah ketela rambat dan diberi makan 3 kali sehari. Lihat deh sisa remah-remah ketela disamping kanan si L, bisa dibilang monyet disini terpelihara dengan baik karena ketersedian makanannya berlimpah.
Kita juga bisa membeli pisang di depan pintu masuk, harganya kalau gak salah satu sisir kecil 25k, yang besar 50k.


Pura Dalem Agung adalah salah satu dari tiga Pura yang terletak di Monkey Forest. 

Suasana di dalam Pura Dalem Agung, Puranya sendiri dikunci jadi kita cuma bisa ambil foto dari depan pintunya saja.
Disini kita sempat menyaksikan monyet-monyet yang lagi berjibaku juga hihihi

Monkey Forest selain dijadikan kawasan daya tarik wisata, ternyata juga merupakan lokasi penting bagi kegiatan penelitian dan program konservasi. Makanya kawasan ini ditata dan dikelola secara khusus, demi mendorong peneliti dari berbagai lembaga riset di seluruh dunia untuk mengadakan penelitian, khususnya yang terkait dengan perilaku dan interaksi sosial kera dengan lingkungan di sekitarnya.

Para turis banyak yang berfoto dengan latar belakang jembatan batu dan akar pohon tua yang besar.

Mari terus jalan...!!! lihat apa yang akan kita temui diatas sana....

Gue baru nyadar si L pake kaos gambar monyet pas ke Monkey Forest hihihi

Pas lagi jalan kaki mau pulang, kita sempat berhenti bentar untuk ngelihat si tante bule yang lagi
berfoto sama salah satu monyet hihihi, lucu deh monyetnya aktif banget naik-naik ke tangan, punggung,
dan terakhir naik ke kepala si tante, weleh-weleh...


Si L lagi ngobrol sama si Bapak yang merupakan staff Monkey Forest
Si Bapak ini juga yang dari tadi ngawasin tingkah laku monyet yang lagi beratraksi diatas.


Ini dia foto yang paling juara hihi, biar kata kualitas fotonya jelek karena cuma diambil pakai HP jadul gak apa-apa ya buat kenang-kenangan hihihi... Jadi abis ngobrol sama bapak diatas tadi, si bapak nawarin L mau gak foto sama monyet,
dan gak taunya langsung dipanggillah monyet bernama di Putu, yang dalam hitungan detik udah bertengger manis dipundaknya si L hahahahaa... 


Sacred Monkey Forest Sanctuary - Mandala Suci Wenara Wana
Jl. Monkey Forest, Padang Tegal, Ubud - Bali 80571
Tlp. 0361-971304
Buka setiap hari, pukul 8.30 pagi - 6 sore.



Belanja Oleh-Oleh di Krisna - Sunset Road

Sore itu sehabis jalan-jalan di Monkey Forest kita langsung ambil mobil di hotel lalu berangkat ke Kuta. Tujuannya selain mau beli oleh-oleh di Krisna, juga mau cari hotel di dekat sana, sekaligus kita makan malam di Kuta.

Sebelumnya gue udah diwarning sama L jangan khilaf beli oleh-olehnya karena kita masih harus terbang ke Bandung. Gak lucu kalau bagasi kita over kan, jadi beli oleh-olehnya selain emang gak banyak, juga jangan berat-berat. Akhirnya emang cuma beli cemilan ringan, satu kaos buat L, dan pernak-pernik buat sepupu gue. Oleh-oleh buat gue sendiri gak ada hehehe, lagipula kemarin kan udah beli ginger tea & lemon tea di Bali Pulina, anggaplah itu hadiah buat diri sendiri *ceritanya lagi berusaha menghibur diri sendiri* hihihi. Selesai berbelanja, semua belanjaan kita dikemas rapih di dalam kardus (bayar Rp 10.000,-) biar gampang dibawa nanti.

Selepas dari Krisna, kita jalan kaki sedikit ke Atanaya Hotel untuk tanya-tanya rate hotel, cuma L kurang begitu tertarik sama hotelnya. Yaudah, akhirnya kita balik lagi jalan kaki ngelewatin Krisna dan makan malam di D'Cost. Malam itu kita pesan makanan yang simpel banget, gue pesan mie goreng dan L pesan nasi goreng. Sambil ngunyah makanan, gue juga sambilan cari tiket penerbangan murah muahahaha, gilak ya lusa udah harus balik ke Bandung, gini hari belum dapat tiket. Untung aja sekarang pesan apa-apa gampil, tinggal pakai aplikasi hihi dan kebetulan banget banget, kita dapat tiket murah ke Bandung pakai Citilink. Berarti sekarang tinggal cari hotel untuk besok, karena kita ambil penerbangan paling pagi dari Denpasar, otomatis harus cari hotel yang lebih dekat ke Airport supaya gak terburu-buru pas jalan mau ke Airport.



Hotel Promo di Kuta Majesty

Jadi, malam itu setelah kesasar pas jalan pulang kembali ke Ubud, gue langsung menuju bussiness centernya Evitel buat pinjam komputer, check-in online Citilink, dan print boarding pass (ceritanya pernah gue tulis di part sebelumnya). Sedangkan si L kebagian tugas cari hotel untuk besok, lokasi pasti di Kuta dan harus dekat sama Airport. Gak berapa lama dia pun bersuara karena dapat promo hotel murah dari Travel*** jadi ada promo kamar superior tanpa sarapan cuma Rp 208.000,- menarik ya, dua ratus ribuan saja. Tapi tunggu, sebelum booking baiknya kita baca dulu review-review pengunjung hotel ini. Rata-rata reviewnya baik jadi kita semakin bulat buat booking hotel ini. Satu urusan kelar malam itu, senangnya....

Besok paginyaaaaa.....

Gue minta si L nyari sarapan di sekitaran Ubud, pertama kita emang gak dapat sarapan dari Evitel dan yang kedua gue pengen banget makan nasi bungkus bali yang enak dan murah itu hihihi... Jadilah pagi itu, si L yang belom mandi nyopir sendirian keliling jalan Hanoman nyari tukang nasi. Dia bilang akhirnya nemu Ibu yang jual nasi di dekat Pasar Ubud dan dengan polosnya dia tanya jual nasi uduk apa enggak. Ya tau sendiri donk jawaban si Ibu apa? Gak jual dek, di Bali gak ada nasi uduk hihihi...


Sarapan gue pagi itu... enak dan mengenyangkan!!! satu porsi nasi campur ini cuma 5k sajaaaa....

Abis sarapan, kita pun siap-siap untuk check out dan menuju hotel kita di Kuta yaitu Kuta Majesty Hotel, yang dulunya bernama Citihub Hotel.


Rate promo untuk kamar standar tanpa sarapan ditawarkan Rp 275.000,- sedangkan kita dapat RP 208.000,- untuk kamar yang lebih besar walaupun juga sama gak dapat breakfast juga, lumayan kan buat numpang tidur doank hihi

Kamarnya lumayan luas loh pakai lantai kayu juga, cuma amenitiesnya
minim banget deh, untung cuma semalem :D

Tempat tidurnya cukup nyaman, yang bikin senang karena dapat 4 bantal hihihi

Review hotel:
Gak banyak yang bisa gue review dari hotel ini karena kita memang gak tinggal lama disini alias cuma numpang tidur doank. Seingat gue gak ada kolam renang :p tapi ada lift. Kita juga gak nyobain sarapan disini jadi gak tau enak apa enggaknya hihihi... Tapi kalau kalian kelaparan dan resto udah tutup, trus males jalan jauh buat cari makanan, tinggal ngesot kesamping hotel aja ada resto chinese gitu, kayaknya sih enak deh.


Kuta Majesty Hotel
Jl. Raya Kuta No.78, Kuta, Kabupaten Badung, Bali
Telepon: (0361) 757812



Nostalgia di Warung Italia - Seminyak

Abis taruh barang-barang di hotel, kita keluar untuk cari makan sore. Gue sih pengennya makan babi guling, tapi apa daya kalah suara sama si L (suara sebagai bapak bendahara selama liburan maksudnya, ngerti donkkk hihi). Jadi gue manut aja pas doi bilang pengen makan di Warung Italia di Seminyak. Kita pesan beberapa menu, langsung lihat foto-fotonya aja yaa...


Nostalgia di Warung Italia - Seminyak, banyak yang belum tau kalau jalan ini searah, jadi banyak sekali kendaraan yang
lawan arah karena gak tau padahal di depan gang, papan petunjuknya jelas. Jadi yang mau menuju Warung Italia, masuknya dari sunset road ya ada pom bensin besar, masuk gang kunti sebelah pom bensin tsb. Jangan lawan arah (masuk dari Seminyak), bikin macet aja kalau kebetulan papasan sama kendaraan dari arah sebaliknya hihi...

Quattro Stagioni - segede gini cuma 80k

Tonno Aglio Olio - 55k, rasanya asiiiiinnnn banget, bisa dibilang cuma kemakan sedikit.

Meat Ball - 10k, kalau kata L rasanya mirip bakso lohua bikinan nyokap gue, tapi dikasi bumbu bolognese huehehe


Warung Italia
Jl. Kunti 1 No. 2 Seminyak - Bali
Tlp. 0361-8786728


Setelah kekenyangan, kita lanjut menuju ke Gereja St. Fransiskus Xaverius - Bali, untuk berdoa didalam Gua Maria gereja tersebut, sebagai wujud ungkapan syukur luar biasa karena akhirnya gue dan L dapat menikah dan berharap semoga pernikahan kami langgeng sampai ajal memisahkan. Amin.


Megahnya rumah Tuhan - Gereja St. Fransiskus Xaverius - Kuta

Berdoa di Gua Maria

Demikian cerita jalan-jalan aka honeymoon di Bali versi gue dan L, sampai jumpa di edisi honeymoon ke Bandung ya....