Monday, 29 February 2016

Benda-Benda Rohani Untuk Pernikahan Katolik

Semoga gak ada yang protes ya karena hal kecil kayak gini gue bikin satu tulisan terpisah hihihi... Benda-benda rohani dan hubungannya dengan pernikahan Katolik apa sih? Jadi gini, sejauh gue suka datang ke acara pemberkatan pernikahan kerabat yang dilangsungkan di gereja Katolik, selalu ada sesi dimana orang tua menyerahkan benda-benda rohani kepada sepasang mempelai. Seperti yang gue kutip dari teks misa pemberkatan pernikahan, gunanya adalah:

"Anak-anakku terimalah Kitab Suci ini, yang berisikan Sabda Tuhan sendiri untuk membangun hidupmu berdua. Bacalah, renungkanlah dan laksanakanlah pesan-pesannya. Niscaya hidupmu berdua akan dipenuhi dengan rahmat kasih Allah, dan memancarkannya kasih Allah itu dalam setiap langkah kehidupanmu."

"Anak-anakku, terimalah Salib dan Rosario ini. Pandanglah dan pakailah untuk berdoa. Baik di saat suka maupun di saat duka. Niscaya kegembiraanmu akan berubah menjadi kebahagiaan yang tak dapat diambil dari hidupmu, dan dukamu akan menjadi ketabahan penuh pengharapan dan penghiburan. Dan doa-doamu akan semakin berkenan kepada Tuhan."

Tapi sering kali benda-benda ini kadang terlupakan hehehe, dicari paling belakangan pas waktu udah mepet banget. Tahu hal ini lumayan penting, gue coba cari tahu sejak dini apa saja yang diperlukan. Tempat yang tepat untuk mencari benda-benda rohani yang lumayan lengkap setau gue adalah Toko Obor - Gunung Sahari. Terakhir kali ke Toko Obor beberapa tahun lalu, gue lihat ada satu rak yang memajang paketan benda rohani lengkap dengan box dan hiasan. Cocok banget untuk yang mengincar kepraktisan hehehe...

Paket benda-benda rohani yang dijual di Toko Obor.

Kebetulan minggu lalu, setelah selesai ambil surat pembaharuan baptisnya L di Gereja Kramat, masih ada waktu untuk mampir ke Toko Obor. Sampai disana kita langsung ke lantai 2 yang khusus menjual benda-benda rohani. Pas lihat-lihat kebagian paket yang gue bilang diatas, ternyata harganya menurut kita agak tinggi, jadi gue putuskan untuk beli satuan aja supaya lebih hemat (karena tanpa box dan hiasan bunga-bunga itu).

Lalu, apa saja yang harus dibeli?
1. Alkitab Deuterokanonika Pernikahan
2. Salib Kristus
3. Sepasang Rosario
4. Patung Keluarga Kudus
5. Lilin (optional)
6. Puji Syukur (optional)

Puji Syukur dan lilin itu gak mesti ada sih, cuma sebagai pelengkap aja. Gue juga baca di blog sebelah ada juga yang ditambahin buku doa. Ohya, untuk membeli Alkitab dan Puji Syukur kita harus ke toko yang di lantai satu ya, nanti digabung bonnya gak apa-apa hehehe...

Benda rohani yang kami beli.
Setelah selesai berbelanja di Toko Obor, gue dan L pun kelaperan berat hehehe (maklum udah lewat jam makan siang) dan untuk mendiamkan cacing di perut pun akhirnya kita beli makan di depan Toko Obor. Banyak tukang makanan di gerobak gitu, gue makan Mie Ayam dan L nasi goreng. Setelah makan makanan berat, kita pun lanjut jajan es goyang yang enak banget! iya enak banget, mungkin efek udah lama gak jajan es goyang kali ya...

Segitu aja tulisan kali ini, semoga membantu ya informasinya, khususnya untuk yang lagi sama-sama mempersiapkan pernikahan :)

Toko Rohani Obor
Alamat: Jl. Gunung Sahari no. 91, Jakarta Pusat, DKI Jakarta 10610
Telepon:(021) 4222396

Tuesday, 23 February 2016

Mempersiapkan Berkas Kanonik

Setelah kemarin ikut KPP (ceritanya bisa baca disini), selanjutnya gue dan L harus mempersiapkan diri dan juga berkas-berkas yang diperlukan untuk mengajukan permohonan penyelidikan kanonik. Tujuan penyelidikan kanonik sendiri ada tiga, yang pertama adalah sebagai persiapan terakhir untuk perkawinan. Persiapan itu sudah dimulai dengan KPP dan disempurnakan dalam penyelidikan kanonik. Penyelidikan kanonik tidak cukup dengan mengisi formulir, tetapi harus diawali dengan bimbingan pastor untuk lebih memahami hakekat perkawinan katolik sehingga dapat menghayati dengan baik dan dapat mencapai apa yang dicita-citakan yakni kebahagiaan dalam keluarga. 

Tujuan kedua adalah untuk memastikan bahwa calon mempelai tahu dan dengan sadar serta penuh tanggungjawab menerima ketentuan-ketentuan hukum Gereja Katolik menyangkut perkawinan (perkawinan tak terpisahkan, seumur hidup, hanya satu pasangan dll). Perkawinan adalah sebuah keputusan dan kesepakatan pribadi yang bersifat bebas dan bertanggungjawab, serta tujuan yang terakhir adalah untuk memastikan bahwa calon mempelai bebas dari halangan untuk perkawinan. Bilamana ada halangan, diusahakan untuk mendapatkan dispensasi dari Uskup seperti halangan beda agama, beda Gereja. Hal ini akan dibicarakan pada kesempatan lain. 

Proses persiapan perkawinan di Gereja Katolik memang agak panjang, tapi tetap harus berusaha menikmati semua proses yang ada. Kalau kata Nyokap gue yang non-Katolik, "Kamu sama L tuh kalau nanti sudah nikah jangan ada masalah dikit berantem, ingat perjuangannya (ngurusin ini-itu) panjang sekali."

Lanjut lagi ya... Jadi yang harus kita lakukan setelah mengikuti KPP adalah datang ke Sekretariat Gereja dan ambil Formulir Pendaftaran Perkawinan (Kanonik), lalu isi data di form tersebut dengan melampirkan beberapa berkas, seperti dibawah ini:
  1. Surat baptis yang sudah diperbaharui (masa berlaku 6 bulan dari tanggal keluar surat). Untuk permohonan pembaharuan surat baptis, mintanya ke paroki tempat kita dibaptis. Biasanya bisa lewat email/ datang langsung dengan membawa fotocopian surat baptis. Jangan lupa pastikan kalau kalian bilang kalau keperluannya untuk Kanonik, jadi akan dituliskan Status Liber (status bebas) pada surat tsb.
  2. Surat Pengantar dari Ketua Lingkungan. 
  3. Formulir identitas saksi dalam upacara perkawinan. Mengisi formulir identitas saksi, fotocopi KTP, dan fotocopy surat baptis saksi. Saksi yang dimaksud (2 orang) haruslah beragama Katolik, umur minimal 21 tahun, dan bebas dalam hal relasi.
  4. Fotocopy Sertifikat Kursus Persiapan Perkawinan (masa berlaku hanya 1 tahun, ada juga yang menyarankan ikut KPP di tahun yang sama dengan tahun pernikahan kita).
  5. Fotocopy Kartu Keluarga Paroki.
  6. Foto Berdampingan 2 lembar, ukuran 4x6 (berwarna). Kami fotonya di Surya Foto Sektor 1.2 BSD City, pas datang ke counter langsung bilang mau foto untuk catatan sipil. Background warna yang disarankan fotografer adalah merah dan posisi duduk L saat di foto ada di sebelah kanan gue. Jumlah foto yang diperlukan total (untuk Kanonik, Catatan Sipil, dll) kurang lebih 10pcs tapi kami lebihin cetak 12pcs.
Ada catatan tambahan nih, apabila salah satu calon pasangan pengantin tidak/belum beragama Katolik, maka perlu membawa 2 orang saksi untuk memberi kesaksian bahwa pihak yang tidak/belum beragama Katolik belum pernah menikah. Jika ada kasus demikian, maka pengurusannya minimal 4 bulan karena harus memproses permohonan dispensasi ke pihak Keuskupan. 

Kalau di Gereja gue, pasangan yang harus menikah haruslah sudah menerima Sakramen Krisma/ Penguatan. Hal ini menjadi pro & kontra di kalangan teman-teman gue hehehe... karena beberapa orang bilang gak perlu Krisma dulu kok. Kemarin pas KPP ada pertanyaan serupa juga yang diajukan peserta KPP kepada Pastor, jawabannya sih urus Kanonik dulu gak apa-apa sambil tetap mengajukan permohonan untuk menerima Sakramen Krisma.

Nah, setelah berkas-berkas kanonik siap segera diantarkan ke Sekretariat Gereja dan selanjutnya baru janjian sama Pastor untuk penyelidikan Kanonik.

Jangan lupa untuk libatkan Tuhan dalam
persiapan pernikahan kita ya :) God bless you...
Note:

Update berkas-berkas gue per tanggal 29/02/2015:
1. Semua berkas sudah diserahkan ke Sekretariat Paroki, sekarang tinggal menunggu panggilan untuk Kanonik. Berhubung sekarang adalah masa pra-paskah dan Romo pasti sibuk sekali, kami sudah diinformasikan bahwa kemungkinan jadwal Kanonik baru dapat dilaksanakan setelah Paskah.
2. Akhirnya kita buat janji untuk ketemu sama Romo dahulu, untuk memohon kesediaan Romo memberkati kami nanti (konfirmasi jam).

Sumber referensi bacaan mengenai Penyelidikan Kanonik, dapat dibaca di www.kairos.or.id

Sunday, 21 February 2016

Katakese (Kursus) Persiapan Perkawinan

Ada yang spesial ini pas Valentine, tentu bukan hal-hal yang berbau romantis-romantisan ya! kayak gak tau L aja, jauh beud dia dari kata lomantissss. Yang bikin spesial adalah karena tgl 13-14 Februari kemarin, gue dan L ikutan Kursus Persiapan Perkawinan yang belakangan oleh Romo Yahya judul kegiatannya diperbaiki dari "Kursus" menjadi "Katakese", mengapa? karena kegiatan ini tujuan utamanya bukan untuk dapat sertifikat KPP (walaupun sebenarnya iya) yang diperlukan sebagai salah satu syarat kanonik tetapi lebih untuk pembekalan calon pasutri yang akan membina hubungan pernikahan. 

Kami berdua mendaftar KPP di Sekretariat Gereja St. Monika dan rencana awalnya memang KPP akan diadakan disalah satu ruangan yang ada di komplek gereja. Namun dua minggu sebelum pelaksanaan KPP, kami dikonfirmasi bahwa tempat pelaksanaan dipindah ke Aula Gereja St. Ambrosius - Vila Melati Mas karena ruangan gereja yang akan dipakai sebelumnya sedang direnovasi. Untuk syarat-syarat yang diperlukan untuk mendaftarkan diri ikut KPP bisa baca tulisan gue yang ini.

Gereja St. Ambrosius - Vila Melati Mas (dokumentasi pribadi)
Sesuai jadwal yang diberikan Panitia penyelenggara KPP, hari Sabtu tgl 13 Feb 2016 kegiatan akan dimulai pukul 16.00-21.30, lalu dilanjutkan hari Minggu tgl 14 Feb 2016 mulai pukul 10.00-21.00 Padat ya jadwalnya? belum apa-apa udah kebayang bakalan bosen nih hihihi... Total peserta yang hadir ada 40 pasangan dan 3 single. Single disini maksudnya mereka mengikuti KPP terpisah dengan pasangannya, misalnya karena pasangannya sedang berada di luar negeri dan tidak memungkinkan untuk ikut KPP bersama.

Gue bahas sedikit ya apa saja topik-topik yang kita dapatkan selama KPP ini:

Sabtu, 13 Februari 2016

1. Hukum Perkawinan Gereja
    dibawakan oleh Romo Yahya - Pastor Paroki St. Monika
Disini kami diberikan penjelasan mengenai intisari Perkawinan sesuai dengan Kitab Hukum Kanonik (KHK) 1983, Kanon 1055 yaitu "Dengan perjanjian, pria dan wanita membentuk kebersamaan seluruh hidup; dari sifat kodratinya, perjanjian itu terarah pada kesejahteraan suami­ istri serta kelahiran anak; oleh Kristus Tuhan, perjanjian perkawinan antara orang-orang yang dibaptis diangkat ke martabat sakramen." 
Selain itu Romo juga memberikan masukan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan persiapan menuju perayaan perkawinan, termasuk diantaranya persiapan mental, persyaratan kanonik, persiapan teks misa, gladi perayaan, dan lain-lain.

2. Hukum Perkawinan Sipil 
dibawakan oleh Bp. FX. Hermawi Taslim - Lawyer & Tokoh Politik
Untuk melengkapi wawasan kami mengenai arti dari perkawinan itu sendiri, selain dari sudut pandang gereja, kami juga diberikan pemahaman dari sudut pandang perkawinan sipil. Yang gue tangkap pada sesi ini yang terutama adalah bahwa pernikahan di Indonesia dianggap sah bila telah dilaksanakan sesuai dengan agama dan kepercayaannya masing-masing (adat/ agama). Namun sebagai Warga Negara yang baik, kita harus mencatatkan pernikahan kita ke catatan sipil. Catatan Sipil ini sifatnya pasif ya, jadi kita sendiri yang harus mendatangi mereka. Nah ada pertanyaan nih, gimana kalau nikahnya (pemberkatan pernikahannya) di luar negeri? Jika ada kasus kayak gini, kita dapat mencatatkan pernikahan kita maksimal satu tahun setelah kembali ke Indonesia (detail ngurusnya gimana, maap ya gak nanya hehehe...)
Ohya, ada yang beda nih dari pemahaman Hukum Perkawinan Gereja dan Sipil. Kalau hukum gereja mengatakan jika syarat perjanjian telah terpenuhi (ada calon mempelai pria dan wanita, adanya Imam, dan 2 orang saksi) maka pernikahan dapat disahkan walaupun tanpa restu dari kedua orang tua mempelai, beda halnya dengan Hukum Perkawinan Sipil yang mengharuskan kedua mempelai mendapat ijin (restu) dari orang tua/ wali. 
Selain itu, juga dibahas mengenai Kawin Campur antara WNI dan WNA. 
Lalu yang gak kalah menarik adalah pembahasan tentang "Perjanjian Kawin" yang dibuat sebelum perkawinan dan dibuat di depan Notaris lalu didaftarkan ke Pengadilan Negeri setempat. Gunanya apa? untuk mengatur mengenai perjanjian pisah harta antara suami/istri. Ini hal baru bagi gue dan L, dan rasanya berguna juga loh terlebih lagi pasangan kita mungkin akan menjalankan bisnis/usaha (jaga-jaga amit2 ya kalau nanti usahanya pailit harta bersama gak akan ludes semua kesita).


3. Ekonomi Rumah Tangga
dibawakan oleh Bp. Ir. Andreas Hartono, CHT, CI, CFP
Gak perlu dijelaskan pekerjaan Beliau ini apa ya karena udah jelas terlihat dari gelarnya :)
Jujur para peserta KPP udah mulai loyo dijam-jam ini tapi karena pembicaranya juga semangat (apalagi yang dibahas menyangkut duit) pesertanya juga mendadak ikutan semangat nih hihihi... Intinya disini kita diajak untuk Financial Check Up, lalu menganalisis keadaan keuangan kita. Apakah kelebihan uang atau kekurangan uang?

Kita juga diajak untuk mengubah mindset kita soal uang dan keuangan dalam rumah tangga, dimana yang paling penting yang harus kita lakukan adalah bersyukur dan jangan lupa memberi (beramal), suami-istri berkewajiban mengelola keuangan bersama, jangan beli besi (maksudnya jangan beli barang yang nilainya tidak akan bertambah di masa mendatang, kayak gadget dan kendaraan - nilainya akan semakin menyusut), belajar untuk menunda kesenangan dan prioritaskan kebutuhan (bukan keinginan), dan terakhir buat uang mengejar anda!

Yang penting nih, jangan sampai keluarga kita gak punya dana darurat loh. Besarnya dana darurat untuk pasutri yang baru menikah dan sama-sama bekerja (karyawan maksudnya) adalah minimal sebesar 2 kali pengeluaran rutin perbulan. Jika salah satu diantaranya adalah wiraswasta/ pengusaha minimal harus punya dana darurat 6-12 kali dari pengeluaran rutin perbulan dan disarankan dana darurat ini disimpan dalam bentuk tabungan.

Membahas hutang juga gak kalah menarik nih, menurut si Bapak, hutang yang saat ini boleh kita ambil yaitu KPR (hutang produktif karena nilai investasinya meningkat melebihi tingkat suku bunga KPR yang kita bayarkan) dan hutang kredit kendaraat (hutang bisnis, yang digunakan untuk mendukung kegiataan kita agar mendapatkan hasil terbaik). Selain itu, hutang apapun sebaiknya dihindari. 


Minggu, 14 Februari 2016

4. Pendidikan Iman Anak
    dibawakan oleh Ibu Juliana Muniarti - Psikolog & Wakil Rektor Univ. Atmajaya
Dalam janji perkawinan, sebagai orang Katolik, kita berjanji untuk menjadi Ibu dan Bapak yang baik bagi anak-anak yang dipercayakan Tuhan kepada kita dan bersedia mendidik mereka menjadi orang Katolik sejati. Jadi disini jelas disebutkan bahwa tanggung jawab pendidikan iman anak adalah ditangan orang tua, yaitu kita (gue dan L juga maksudnya).
Disini, Ibu Muni menyebutkan bahwa tantangan kita sebagai orang tua dewasa ini sangatlah berat jika dibandingkan dengan tantangan orang tua pada masa lalu. Tapi ada kunci yang harus kita ajarkan kepada anak-anak yaitui: Membuka Hati dan Pikiran kepada Tuhan. Untuk mengatasi tantangan yang ada kita sendiri (orang tua) haruslah menjadi model yang baik bagi anak-anak, harus bersikap konsisten terhadap anak (misalnya: kita suruh anak tidur jam 9, tapi kita sendiri jam 9 masih nonton TV - nah kalau suruh anak tidur tepat waktu, kita juga harus ikutan), dan yang terakhir walaupun kita dihadapkan pada realita kejam bahwa orang tua bekerja (khususnya working mom) kita harus ingat yang terpenting adalah kualitas relasi bukan kuantias.

Aula St. Ambrosius yang dipergunakan untuk kegiatan KPP Angkatan XXXIX 13-14 Feb 2016 (dokumentasi pribadi).

5. Komunikasi Suami - Istri
    dibawakan oleh Bp. Kamil Inglan - CEO Tyas Militya Study, Trainer & Motivator
Sesi ini bisa dibilang paling banyak gerak dan ketawa deh. Gimana enggak, pembicaranya banyak sekali menyisipkan games seru yang melibatkan para peserta. Gak banyak yang gue catat mengenai topik kali ini. Tapi pada dasarnya agar tercipta komunikasi yang baik antara suami dan istri, kita harus terlebih dahulu belajar mengenai perbedaan antara pria dan wanita ^_^
Bedanya Pria dan Wanita:
Pertama, 90% isi otak laki-laki adalah Sex dan isi otak wanita adalah kata-kata. Yang mengejutkan nih ternyata dalam satu hari seorang wanita harus mengeluarkan 1500 kata loh, gak heran ya!
Kedua, Wanita akan merasa hidupnya optimal jika dirinya dicintai dan Pria akan merasa hidupnya optimal jika dirinya dipercayai. 


6. Seksualitas Dalam Perkawinan Katolik
    dibawakan oleh Ibu Evodia Suwadi - Dosen & Pelayan di Bidang Kesehatan
Pertama-tama para peserta diminta menuliskan disebuah post-it satu kata "akar" yang kuat dari perkawinan itu apa saja? dan yang kedua peserta diminta menuliskan "buah" dari perkawinan. Semua pemikiran peserta di rangkum oleh Ibu Evo. Akar dari sebuah perkawinan adalah kasih, kepercayaan, toleransi, rasa syukur, sex yang baik, dll sedangkan buah dari perkawinan diantaranya adalah keluarga bahagia, sejahtera, langgeng, dan bayi yang lucu ^___^ 
Juga dibahas dan disampaikan juga melalui video dan gambar-gambar mengenai pertumbuhan embrio, bayi yang lahir baik dan cacat, makna dan fungsi seksualitas (yaitu sebagai pemersatu suami istri, mendapatkan keturunan, dan fungsi penyelamatan), dijelaskan juga kurun reproduksi yang sehat yaitu pada usia 20-35 tahun, resiko-resiko jika reproduksi terlalu muda/tua/remaja. Tidak lupa juga dijelaskan mengenai Keluarga Berencana dan pandangan gereja terhadap KB, serta metode KB Alami (karena gereja tidak mendukung KB buatan).


7. Spiritualitas Perkawinan Katolik
    dibawakan oleh Bp. Dominikus - Anggota Seksi Kerasulan Keluarga St. Monika 
Ini merupakan sesi terakhir, tapi tentu saja bukan penutup hihihi... Pak Domi ini menemai para peserta KPP dari hari pertama loh dan baru dapat kesempatan tampil jadi pembicara malah disesi terakhir. Pada topik ini, Pak Domi menjelaskan berbagai macam hal mengenai 4 dasar perkawinan katolik (yaitu sebagai persekutuan hidup, persetujuan bebas, cinta kasih, dan tujuan), lalu ciri-ciri dari perkawinan katolik (yaitu tidak terceraikan dan terbuka bagi keturunan), tujuan dari perkawinan katolik (yaitu untuk kebaikan suami-istri, kelahiran dan pendidikan anak, serta untuk perkembangan gereja dan masyarakat). Selain itu kita juga bertanggung jawab untuk dapat berbuah baik, menjadi terang dan garam dunia.
Inti dari Spiritualitas Perkawinan Katolik adalah Tuhan yang memanggil kita untuk hidup berkeluarga, Tuhan yang menemukan pasangan hidup kita, Tuhan hadir dalam suka dan duka dalam hidup kita, serta apa yang kita alami dalam hidup berkeluarga pasti ada maksud dan tujuan tertentu. Singkatnya Tuhan adalah Sutradara dalam hidup kita. 


Setelah melewati tujuh sesi ini, kita masuk kedalam sesi REFLEKSI, lalu kita diberikan tiga questionnaire mengenai keuangan, hubungan dengan mertua dan ipar, serta seksualitas. Setelah itu kita (pasangan) diminta merumuskan KOMITMEN hidup berkeluarga kami seperti apa.

Lalu kegiatan KPP hari itu ditutup dengan misa (bukan misa gabungan dengan umat lain ya, tapi ini misa khusus peserta KPP saja) dan pembagian sertifikat dan buku. Syukur kepada Allah!

Sertifikat KPP dan Buku pendamping.
Kami (gue dan L) jujur merasa KPP ini penting banget untuk diikuti oleh semua pasangan yang akan menikah dan membina keluarga. Kami mendapatkan pemahaman-pemahaman baru yang sebelumnya gak pernah kami ketahui, priceless! Nah, sekarang satu tahap sudah kami lewati berikutnya adalah mengajukan permohonan pelayanan Kanonik. Banyak syarat yang harus dipersiapkan, detailnya nanti ditulis terpisah ya. God Bless Us.

Sumber: santamaria.or.id

Monday, 15 February 2016

Kampung Main Cipulir

Awalnya bisa kepikiran jalan-jalan ke Kampung Main Cipulir (KMC) ini gegara nonton liputan di TV. Gak nyangka sih ada rekreasi alam murah-meriah apalagi lokasinya di Jakarta. Biasanya kan kalau mau rekreasi alam minimal melipir ke Bogor atau ke Bandung, tapi sekarang gak usah hihihi di Jakarta juga ada kok... Selain tiket masuk dan tiket permainannya yang murah meriah, yang bikin gue tertarik lagi main kesini adalah karena disini ada outboundnya hihiyyy... Sumpah antusias banget karena selama ini gue belum pernah nyobain outbound gitu, pengen banget manjat-manjat tangga, rasain meniti tali di udara #eaaa. Setelah berhasil membujuk L, adek gue, dan sang sepupu dengan kemampuan persuasif tingkat tinggi *ketawa ala mak lampir* akhirnya mereka mau ikutan (kalo L mah memang wajib hukumnya harus ikut supaya ada yang nyetirin hihi)

Karena mau nyobain outbound, dari rumah kita sudah pakai sepatu - kecuali adek gue yang kelewat males bersihin debu-debu di sepatunya (udah lama gak dipake soalnya) jadi dia pilih pake sendal jepong yang mana berakhir dengan penyesalan hahaha... Berangkat dari rumah jam 09.30 pagi perjalanan ke Cipulir via BSD-Bintaro cuma 1,5 jam. Dari tempat parkiran sampai ke pintu utama KMC, kita harus jalan kaki menyusuri gang sempit yang disamping-sampingnya banyak penjual jajanan ringan dan penyewaan tikar/ karpet untuk piknik. Awalnya kita mau beli tiket terusan langsung 65ribu tapi pas gue bilang ke si Mba penjaga loket tiket kalau kita semua gak ada yang mau berenang, Mbaknya nyaranin kita beli tiket masuk aja 7ribu lalu beli tiket permainan yang diminati di dalam. Oke deal, mbaknyaaa...

Tugu selamat datang di KMC yang perlu peremajaan ulang supaya lebih menarik.

Beli tiket di loket yang sederhana. Harga tiket masuk cuma Rp 7.000,-/orang. Murah kan,....?!
Ohya, mulai dari Mbak penjaga loket, Bapak-bapak yang periksain tiket kami, serta petugas-petugas KMC yang lain sangat ramah-ramah loh sama pengunjungnya. Selalu memberikan senyum pada kami semua :)

Infrastruktur disini cukup terawat walaupun bisa dibilang sederhana banget ya...
Di balik pagar itu merupakan kolam renang yang isinya banyak anak-anak kecil. 

HTM kolam renang kalau gak salah Rp 30.000,- deh

Sebenarnya kita gak langsung main sih, melainkan makan siang dulu. Kita pesan makanan di kantin dekat arena lomba kicau burung. Pesanan kita standar aja kok ada yang  pesen popmie, ada juga yang pesan mie ayam bakso, yang pasti pesan minuman dingin biar seger hehehe. Setelah kenyang baru kita ke arena main ATV. Harga tiketnya cukup terjangkau, cuma gue lupa berapa pastinya. Gue gak tertarik main ATV disini karena rutenya pendek dan kurang menantang *cieh belagu ceritanya hihi* jadinya cuma L sama ade gue doang yang coba, gak lama si Dinda (sepupu gue) baru nyusul mau nyobain. Nah intermezzo dikit ya, entah kenapa ya si L itu kalau main ATV dimanapun pasti dia kebagian yang ATVnya bermasalah. Waktu itu pernah main ATV di Bandung Tree Top, punya dia masalah di tengah track. Kali ini pun sama, tiba-tiba mesin ATV dia mati di tengah track *pukpuk L*






Setelah seru-seruan main ATV, kita mau lanjut outbound cuma sayang petugas outboundnya lagi istirahat jadinya kita malah puter-puteran komplek KMC dulu. Menurut gue pribadi, sebaiknya pengelola KMC juga memperhatikan kerapihan dan keindahan area KMC bagian belakang juga karena sudah banyak tanaman-tanaman yang perlu di pangkas. Kontras banget sama area bagian depan yang rumput-rumputnya rapih, bagian belakang ini kok dibiarkan banyak semak-semak dan ada beberapa permainan yang terbengkalai ya, entah karena rusak or whatever lah sehingga kok kesannya gak keurus gitu.

Foto dulu di sini biar afdol kunjungan ke KMC-nya

Halaman rumput KMC (btw, boleh gak sih disebut halaman hihi) yang terlihat rapih.
Banyak juga yang piknik disini, bisa bawa/ sewa alas duduk (tikar) dari luar atau juga ada yang langsung geletakan di rumput.
Daripada bengong nungguin arena outbound dibuka, kita akhirnya sepakat mau main bebek air gitu. Harga tiketnya Rp 15.000,- berhubung kita berempat, kita sewa 2 bebek aja. Kita gowes si bebek ini di area kayak danau buatan cuma di dalam danau ini banyak akar kayu gitu jadi bebek kita suka kesangkut kalau posisi bebeknya terlalu pinggir. Adek gue dan sepupu gue itu kebetulan emang jalan duluan, pas ditengah jalan mereka teriak-teriak gitu lalu langsung puter arah. Pas kita tanya kenapa katanya mereka berdua ngeliat binatang mirip biawak gitu di tanah dan mereka ketakutan dong, jadilah kita gak sampe tuntas mengitari danau yang bentuknya mirip angka 8 gitu hihihi....






Setelah capek main bebek-bebekan, lanjut ke arena outbound. Sesungguhnya gak ada foto-foto detail selama outbound ini yang gak lain karena disebabkan semua personil kumpul bocah ikutan main semua ^__^  Harga tiket outbound hanya Rp 25.000,- untuk dewasa dan untuk anak-anak Rp 20.000,- Walaupun berada di area yang sama, tetapi sebenarnya rintangan yang diberikan untuk peserta dewasa dan anak-anak itu berbeda ya. Ohya selama mengikuti outbound kita juga selalu dipandu dan dibimbing sama kakak-kakak dari pihak pengelola.




Etss.. jangan dikira empat rintangan yang kami lalui di outbound kali ini tuh gampil atau lancar-lancar aja yah! kaki gue nih ya gak sadar sampai gemetaran loh pas meniti seutas tali baja. OMG mayuu deh daku kalau inget-inget. Belum lagi pas rintangan melompat dan berayun di udara, batang kayu yang diinjak adek gue mendadak patah, pheeewww... dan jadilah dia bergelayutan di udara selama beberapa menit (ini sih antara lucu dan kasian sih). Si L juga mendadak sakit perut pas mau mulai rintangan ketiga, untung ada tangga jadi dia bisa turun ke bawah dan ngibrit ke toilet. Coba kalau doi udah mau rintangan keempat ya mana bisa turun hihihi... (fyi, cuma dirintangan ke-3 aja bisa putusin mau lanjut apa enggak, karena disediakan tangga buat turun).

Setelah selesai meniti net diatas (ini rintangan paling mudah deh) rasanya tuh lega banget, kalau gue atlet mungkin abis turun dari tangga, gue langsung sembah sujud deh ah! *lebay emang tapi biarin ajah* hahaha... Lalu buru-buru cari tukang minuman, abis beraktivitas kayak gini seger banget deh minum yang dingin-dingin. Mana disini tuh harga makanan dan minuman yang dijual tuh gak dimahalin dan gak dimurahin juga harganya, jadi pantas lah.

Rencana awal sih mau main flying fox juga lah, tapi berhubung abis outbound badan kok berasa jompo banget ya - encok sana sini hihihi...ketauan banget jarang olahraga, jadi kita putuskan untuk pulang aja. Kita melewati jalanan sama persis seperti perjalanan pas perginya, bedanya pas pulang hujan deras loh. Kesimpulannya, kita semua senang banget loh main ke Kampung Main Cipulir ini. Benar-benar menjadi oase banget deh ditanggal nanggung gini, udah gitu lokasinya gak jauh-jauh banget juga. Harga tiket masuk dan permainan udah gue sebutin diatas ya, benar-benar terjangkau :)

Kemanakah tujuan kami ngebolang selanjutnya? *berpikir keras*

Saturday, 13 February 2016

L’ORÉAL UV PERFECT

Tepatnya sejak akhir tahun lalu, gue mulai rajin ngerawat kulit khususnya wajah. Selama ini perawatan yang gue lakukan sangat-sangat sederhana, yang penting rajin cuci muka pagi dan malam sebelum tidur, lalu jangan lupa pakai pelembab sebelum berangkat kerja, kalau lagi gak males setiap akhir pekan gue sempatkan peeling dan maskeran. Untuk produk-produk yang sehari-hari gue pakai benar-benar merk yang umum dan mudah ditemukan di minimarket hihi, sebut saja Sariayu, Garnier, dan Mustika Ratu :)

Beberapa kali skintest di SKII, seperti yang gue tulis dipostingan sebelumnya, salah satu masalah di kulit wajah gue adalah spot control slash flek hitam. Berhubung sekarang masih perawatan untuk Texture Refinement untuk pori-pori jadi gue gak fokus ke spot control dulu, tapi tetap aja gak tinggal diam dong dan bulan lalu akhirnya gue putuskan untuk cobain sunblocknya L’ORÉAL UV PERFECT. 

Jujur ya, tadinya pengetahuan gue soal sunblock/sunscreen tuh awam banget deh, yang gue ngerti adalah yang penting ada SPF (Sun Protection Factor), tapi itu aja ternyata gak cukup loh! SPF itu gunanya untuk melindungi dari UVB, yang bisa menyebabkan kulit terbakar & penggelapan kulit. Kita juga perlu perlindungan dari UVA untuk menghindari kerutan, flek hitam, dan penuaan dini. Makanya sunblock/sunscreen kita juga harus ada PA (Protection Grade of UVA). PA ini biasa ditandain dengan tanda +, semakin banyak + nya berarti semakin tinggi perlindungan UVA-nya. FYI juga nih, UVA itu tetep bisa nembus awan dan kaca loh, jadi walaupun kalian indoor atau cuaca lagi mendung, si UVA ini tuh tetep bisa merusak kulit kalau kalian ga pake sunblock/sunscreen yang mengandung PA, horror!!! (note: gue baru sadar kalau pelembab yang gue pakai gak ada PAnya)

Gue cukup yakin coba produk UV protection dari L'Oreal UV Perfect setelah banyak baca dari internet. Sebenarnya gue nemuin beberapa merk lain sih yang juga bagus, tapi cuma L'Oreal ini yang harganya affordable buat kantong mahasiswa kaya gue hihihi... Lanjut lagi yaa, produk ini memberikan protection SPF 50+ PA++++, jadi dijamin long lasting dan secure banget protection dari UVA & UVB nya (udah mulai berasa kayak postingan berbayar belom hahaha)

Total ada 5 produk dari series UV Perfect ini. Berikut gue kasih tau detail-detailnya ya:) 
UV Perfect Aqua Essence City Face Mist: untuk mempermudah pengaplikasian ulang sepanjang hari. Dengan formula dry mist, mudah menyerap dengan hasil akhir matte jadi ga akan merusak makeup.
UV Perfect Instant White Lotion: memberikan kesan cerah merona pada kulit.
UV Perfect Anti-Dullness Lotion: dengan lotion berwarna ungu, untuk mencerahkan wajah yang kusam.
UV Perfect Transparent Lotion: formula inovatif untuk mempertahankan tampilan natural.
UV Perfect Aqua Essence Lotion: memiliki tekstur seperti air, jadi mudah menyerap tanpa meninggalkan rasa lengket atau berminyak



Awalnya sempat galau mau coba yang Transparent atau Aqua Essence, tapi setelah konsultasi sama BAnya L'Oreal, akhirnya gue putuskan untuk coba yang Aqua Essence. Setelah sebulan coba produknya, surprisingly gue suka loh. Teksturenya ringan dan gak berbau aneh, cepat nyerap ke kulit wajah walaupun pas awal pengaplikasian ke wajah pasti berasa agak lengket. 

Hiraukan si jempol yang buntet :)

Tampak belakang kemasan.
Yang gue suka adalah expired datenya jelas.
Produk ini bisa dengan mudah didapatkan di Dept Store, kebetulan gue kemarin belinya di Aeon Dept Store dengan harga seratus ribuan lebih (haduu maap tepatnya lupa tapi dibawah 150k sih pastinya). Semoga berguna ya, dann...